Posts

Jehovah Jireh: Allah yang Menyediakan dalam Perspektif Kristen

Image
   Dalam tradisi Kristen, “Jehovah Jireh” (atau lebih tepatnya “Yahweh Yireh”) adalah nama ilahi yang berasal dari kisah Abraham dan Ishak dalam Kejadian 22. Ketika Allah menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan putranya, Ishak, Abraham taat sepenuhnya—namun pada saat terakhir, Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai ganti korban. Di sanalah Abraham menamai tempat itu “Yahweh Yireh,” yang berarti “Tuhan akan menyediakan” (Kejadian 22:14). Nama ini bukan sekadar janji material, melainkan pewahyuan mendalam tentang karakter Allah: Ia melihat kebutuhan umat-Nya dan menyediakan jalan keluar, bahkan melalui pengganti yang tak terduga.   Secara teologis, peristiwa di Moria menjadi bayangan (tipe) dari penyediaan tertinggi Allah dalam Perjanjian Baru: Yesus Kristus, Anak-Nya sendiri, yang dikorbankan sebagai Anak Domba Penebus dosa dunia (Yohanes 1:29). Seperti domba jantan menggantikan Ishak, demikian pula Kristus menggantikan umat manusia dalam hukuman dosa...

Tanggapan Kritis terhadap Penelitian "Memahami Ulang Perintisan Gereja"

Image
  Penelitian oleh Aleng dkk*. ini memberikan kontribusi penting dalam diskursus misiologi kontemporer Indonesia, khususnya dalam memperjelas terminologi yang selama ini kabur dalam praktik gerejawi. Berikut analisis kritis yang seimbang:   Kekuatan Signifikan   1. Relevansi Kontekstual yang Mendesak  Temuan bahwa 45,7% pertumbuhan gereja di Indonesia berasal dari perpindahan jemaat (bukan penginjilan) merupakan wake-up call teologis yang krusial. Ini menggugah gereja untuk merefleksikan apakah pertumbuhan numerik benar-benar mencerminkan pertumbuhan misi Kristus atau sekadar redistribusi jemaat yang sudah percaya.   2. Kerangka Konseptual yang Operasional  Pembedaan church starting (ekspansi berbasis lower room : fasilitas, program, relasi) dan church planting (inisiatif berbasis upper room : penginjilan dan pemuridan) memberikan alat evaluasi konkret bagi gereja untuk menilai orientasi pelayanannya. Distingsi ini tidak hanya teoretis t...

“Cari Panggung”: Fenomena Pencitraan dalam Ruang Publik Indonesia

Image
  Istilah “cari panggung” bukanlah sebuah ideologi formal, melainkan narasi kritis yang muncul dalam wacana sosial-politik Indonesia sebagai bentuk kecaman terhadap praktik pencitraan. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan tindakan figur publik—baik politisi, intelektual, maupun selebritas—yang dianggap lebih fokus pada pencarian pengakuan dan popularitas daripada menyampaikan gagasan substantif atau melayani kepentingan bersama. Fenomena ini mencerminkan kecemasan masyarakat terhadap pergeseran logika politik dari pelayanan publik menuju manajemen citra, terutama di era digital.   Latar belakang narasi ini berakar pada dinamika politik pasca-Reformasi, di mana demokratisasi justru membuka ruang luas bagi politik spektakuler. Media sosial, yang awalnya diharapkan menjadi sarana partisipasi demokratis, kini kerap menjadi medan pertarungan pencitraan. Setiap ucapan, gerakan, bahkan diam, bisa dikemas sebagai konten viral yang menarik perhatian, sering kali dengan mengorb...

Marwah Gereja dalam Perspektif Perjanjian Baru

Image
  Marwah Gereja, menurut Alkitab—khususnya Perjanjian Baru—bukanlah soal gedung megah, jumlah jemaat yang banyak, atau pengaruh di media sosial. Marwah Gereja adalah identitas ilahi yang diberikan oleh Allah sendiri. Kata “gereja” dalam bahasa aslinya (ekklēsia) berarti “komunitas yang dipanggil keluar”—bukan untuk mengasingkan diri, melainkan untuk menjadi utusan kasih Allah di tengah dunia. Bayangkan seperti tim yang dipilih Sang Raja untuk misi khusus: bukan karena hebat, tapi karena dipercaya.   Identitas ini ditegaskan ketika jemaat Korintus disebut “orang-orang kudus” (hagioi) , bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka telah dikuduskan “dalam Kristus Yesus” (1 Korintus 1:2). Kesucian ini adalah anugerah sekaligus panggilan: hidup selaras dengan kasih Kristus—misalnya, menyelesaikan perselisihan dengan damai di antara sesama jemaat, bukan membawa perkara ke pengadilan duniawi (1 Korintus 6:1–6). Di tengah budaya yang sering mengukur harga diri dari kekaya...

Ucapan Syukur yang Mengubah Hidup: Dari Ritual ke Gaya Hidup Iman

Image
   Di tengah ketidakpastian zaman—tekanan ekonomi, pergumulan keluarga, atau kecemasan akan masa depan—Alkitab menawarkan jalan yang berbeda: ucapan syukur . Namun, ucapan syukur dalam perspektif Kristen bukanlah sekadar ungkapan emosional saat semuanya berjalan lancar. Ia adalah fondasi teologis, tindakan iman, dan gaya hidup yang membentuk cara kita memandang Allah, sesama, dan panggilan kita di dunia ini.   Alkitab menunjukkan bahwa ucapan syukur berakar pada anugerah Allah —pemberian-Nya yang cuma-cuma, terutama dalam Yesus Kristus. Kita tidak bersyukur karena layak, tetapi karena telah menerima kasih karunia yang tak terbayangkan. Respons ini tampak nyata dalam kisah-kisah Alkitab: Nuh membangun altar setelah banjir besar sebagai pengakuan atas penyelamatan Tuhan; Paulus dan Silas bernyanyi di penjara meski tubuh mereka lecet dan hati penuh luka. Mereka tidak mengabaikan penderitaan, tetapi memilih untuk mengingat: Allah hadir bahkan di tempat yang paling gelap...

Literasi Digital Indonesia: Antara Momentum dan Kebutuhan Transformasi Sistemik

Image
Indonesia kini berada di persimpangan penting dalam upaya membangun literasi digital nasional. Di satu sisi, pemerintah menunjukkan komitmen kuat melalui inisiatif seperti Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) #MakinCakapDigital yang berskala masif dan kolaboratif. Namun, di sisi lain, terdapat paradoks mencolok: masyarakat sangat aktif secara daring—Indonesia bahkan menempati peringkat ke-8 dunia dalam durasi penggunaan internet—tetapi kualitas literasi digitalnya masih rendah, tercermin dari peringkat Indeks Pembangunan TIK (IDI) yang hanya berada di posisi ke-111 dari 176 negara. Tantangan utama terletak pada kesenjangan antara adopsi teknologi dan penguasaan kompetensi digital yang bermakna. Empat pilar literasi digital—keterampilan teknologi, keamanan siber, evaluasi informasi, dan partisipasi digital—belum merata di seluruh segmen masyarakat. Pelajar kerap hanya diberi akses perangkat tanpa pelatihan guru yang memadai; tenaga kerja butuh keterampilan digital yang relevan denga...

Perceraian dalam Keluarga Kristen: Luka Teologis, Pastoral, dan Generasional

Image
  Perceraian di kalangan keluarga Kristen—terutama di lingkungan hamba Tuhan—bukan hanya krisis pribadi, tetapi luka yang menyebar ke ranah teologis, pastoral, dan generasional. Secara teologis, gereja sering terjebak dalam ketidakpastian doktrinal. Alkitab memang menegaskan pernikahan sebagai ikatan sakral yang “tidak boleh dipisahkan manusia” (Markus 10:9), namun penafsiran tentang pengecualian (misalnya “karena zina” dalam Matius 19:9) dan status pernikahan ulang masih diperdebatkan. Akibatnya, jemaat kehilangan kompas moral yang jelas. Sementara itu, hamba Tuhan yang bercerai kerap dihukum tanpa proses pemulihan—suatu sikap yang ironisnya bertentangan dengan inti Injil: anugerah dan pengampunan.   Dari sisi pastoral, respons gereja justru sering memperparah luka. Banyak jemaat yang bercerai merasa dihakimi, diasingkan, bahkan diminta diam demi menjaga “citra suci” komunitas. Studi menunjukkan bahwa mereka—termasuk mantan pemimpin rohani—sering akhirnya meninggalkan j...

Uang dan Politik dalam Perspektif Alkitab: Kepemimpinan sebagai Amanat Suci

Image
Alkitab tidak mengutuk kekayaan sebagai entitas netral, melainkan mengecam keterikatan hati pada uang dan penggunaannya untuk menindas sesama. Inti ajarannya terletak pada penempatan otoritas ilahi sebagai fondasi segala bentuk kepemilikan dan pemerintahan. Segala sesuatu—harta, jabatan, pengaruh politik—bukan milik mutlak manusia, melainkan amanat suci (stewardship) yang harus dikelola dengan integritas dan akuntabilitas kepada Tuhan. Prinsip ini menjadi dasar etika politik yang secara tegas menolak korupsi, nepotisme, dan eksploitasi sistem demi kepentingan pribadi. Kisah-kisah Alkitab memberikan peringatan nyata tentang bahaya ketika uang dan politik menyatu tanpa batas moral. Kasus Raja Ahab yang merebut kebun Nabot melalui persekongkolan hukum (1 Raja-raja 21) adalah potret klasik penyalahgunaan kekuasaan negara untuk keuntungan pribadi. Di sini, hukum, pengadilan, dan kekuasaan eksekutif digunakan bukan untuk menegakkan keadilan, tetapi untuk melegalkan ketidakadilan. Demikian pu...

Yesus yang Merendahkan Diri: Jejak Inkarnasi, Pelayanan, dan Penebusan

Image
Pernyataan bahwa “Yesus merendahkan diri-Nya dari Tuhan menjadi manusia, menjadi hamba, menjadi manusia yang menanggung dosa hingga mati di kayu salib” bukan sekadar gambaran puitis, melainkan ringkasan teologis yang mendalam tentang seluruh misi penyelamatan Kristus. Proses perendahan ini—dikenal dalam tradisi Kristen sebagai kenosis —bukanlah kehilangan esensi ilahi, melainkan tindakan sukarela Sang Anak Allah untuk mengosongkan diri dari kemuliaan surgawi dan memasuki realitas manusia yang terbatas, rapuh, dan berdosa. Ini adalah fondasi doktrinal iman Kristen, yang secara jelas dirumuskan dalam Konsili-konsili awal Gereja, terutama Chalcedon (451 M), yang menegaskan bahwa Yesus adalah satu pribadi dengan dua alam: sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Perendahan dimulai pada titik inkarnasi. Di sini, Yesus tidak melepaskan keilahian-Nya, tetapi justru mencurahkan esensi ilahi ke dalam tubuh manusia. Seperti ditegaskan oleh Athanasius, inkarnasi bukan reaksi darurat terhadap dosa...

Bijak di Dunia Digital: Melawan Ujaran Kebencian dengan Hikmat dan Kasih

Image
Salam damai untuk kita semua, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Di tengah hiruk-pikuk media sosial—tempat kita berbagi kabar, menyuarakan pendapat, bahkan mencari teman—ada bayangan gelap yang terus mengintai: ujaran kebencian. Mungkin kita pernah melihat komentar pedas yang menyerang agama seseorang, ejekan terhadap latar belakang etnis, atau narasi provokatif yang memecah belah kelompok. Itu bukan sekadar “komentar kasar”. Itu adalah bentuk nyata dari hate speech—ujaran kebencian—yang kini menjadi tantangan serius bagi persatuan dan kemanusiaan kita di Indonesia. Sebagai pengguna media sosial, kita perlu tahu: ini bukan hanya soal etika, tapi juga hukum. Di Indonesia, ujaran kebencian diatur dalam Undang-Undang ITE, khususnya Pasal 28 ayat (2), yang melarang penyebaran informasi yang menimbulkan permusuhan berdasarkan Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA). Namun, undang-undang ini sering kali ambigu. Kata-kata seperti “permusuhan” atau “kebencian” bisa ditafsirkan luas—terka...

Mendidik Bukan Hanya Mengajar: Membentuk Manusia Utuh dalam Terang Injil

Image
Di tengah tekanan untuk mengejar nilai, kelulusan, dan reputasi institusi, kita mudah lupa: pendidikan Kristen bukan proyek akademis, melainkan panggilan kerohanian. Ia bukan sekadar menyisipkan ayat Alkitab di awal pelajaran, tetapi menempatkan Kristus sebagai pusat seluruh proses belajar—mengintegrasikan iman, ilmu, dan karakter dalam satu gerakan utuh.   Pendidikan berpedoman Injil dibangun di atas tiga fondasi:    Pertama , kurikulum yang terintegrasi—di mana setiap mata pelajaran, dari matematika hingga seni, diajak untuk merefleksikan kebenaran, keindahan, dan keadilan Allah.    Kedua , metodologi yang transformatif—bukan hanya mentransfer informasi, tetapi membentuk cara berpikir dan merespons dunia. Di SD, kita gunakan narasi Alkitab untuk membangun imajinasi moral; di SMP-SMA, kita latih siswa berpikir kritis melalui lensa Injil; di perguruan tinggi, kita dampingi mereka mengejar kebijaksanaan, bukan sekadar gelar.    Ket...
Image
Mengasihi Tuhan dengan Hati, Jiwa, Akal, dan Tindakan Mengasihi Tuhan bukan hanya perasaan hangat di hari Minggu atau ritual rutin yang kita ulang setiap pekan. Itu adalah komitmen total yang melibatkan seluruh diri kita: hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Markus 12:30). Yesus menempatkan perintah ini sebagai yang terutama—bukan sebagai beban, tetapi sebagai undangan untuk hidup utuh dalam relasi dengan Allah. Markus 12:30 (TB) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu." Dalam komunitas yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kasih itu tidak berhenti pada doa pribadi. Ia diwujudkan dalam disiplin rohani bersama—dalam kelompok kecil yang saling meneguhkan, dalam pembacaan firman yang mendalam, bahkan dalam jalan kaki yang tenang sambil merenungkan kebaikan-Nya. Kasih kepada Tuhan juga melibatkan akal budi: kita belajar, merenungkan, dan memahami kebenaran-Nya.  Seperti kata Roma 12:2,...

Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan

Image
Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan, Bukan Penjelasan Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Pernahkah hidup tiba-tiba runtuh? Saat mimpi hancur, hubungan retak, kesehatan memburuk, atau keadilan terasa jauh—apa yang pertama kali kita cari? Biasanya, kita mencari jawaban: “Mengapa ini terjadi padaku?” Kita ingin penjelasan. Tapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: penjelasan tidak pernah menghibur. Bahkan jika kita tahu “alasannya,” rasa sakit tetap ada. Penjelasan tidak menghapus air mata, tidak menyembuhkan luka hati, dan tidak mencegah kepahitan. Roma 8:28 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan maksud-Nya.” Ayat ini bukan janji bahwa semua hal adalah baik, tetapi bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan. Ia tidak meninggalkan kita di tengah kekacauan. Ia hadir—dan itulah yang paling kita butuhkan. Kita sering berpikir sep...

Bertemu Yesus di Kolam Siloam

Bertemu Yesus di Kolam Siloam Yohanes 9:1–7 (dengan gema dari Yesaya 8:6 dan Yohanes 7:37–38)   Pendahuluan: Sebuah Tempat yang Bernama “Diutus” Di tengah kota Yerusalem yang kuno, tersembunyi di antara tembok batu dan pohon zaitun, ada sebuah kolam kecil bernama Siloam—yang artinya “diutus”. Bukan tempat megah seperti Bait Suci, bukan pula pusat keramaian. Namun di sanalah Yesus melakukan suatu mujizat yang mengubah segalanya—bukan hanya bagi seorang buta, tetapi bagi setiap orang yang rindu melihat kebenaran. Saudara-saudari, hari ini banyak dari kita berjalan dengan mata terbuka—namun tetap buta. Buta terhadap dosa pribadi. Buta terhadap ketidakadilan sistemik. Buta terhadap kebiasaan kita menutup mata terhadap korupsi, ketimpangan, atau bahkan kebutuhan kita sendiri akan anugerah Tuhan. Seperti para pemimpin agama dalam Yohanes 9, kita mungkin mengaku “melihat”—padahal Sang Terang sedang berdiri di hadapan kita. Mujizat: Lumpur, Perintah, dan Pemulihan Yesus melihat seoran...

Keraguan Bukan Musuh

Image
Keraguan Bukan Musuh: Memahami Keraguan dari Perspektif Psikologis dan Iman Kristen  -*-  Dalam kehidupan iman, keraguan sering kali dipandang sebagai tanda kelemahan rohani—seolah-olah orang percaya yang “benar” tidak pernah goyah. Namun, tinjauan psikologis modern menunjukkan bahwa keraguan bukanlah cacat, melainkan bagian alami dan bahkan penting dari proses berpikir, merasakan, dan bertumbuh sebagai manusia ciptaan Tuhan.   Secara kognitif, keraguan berfungsi seperti sinyal internal yang memberi tahu kita: “Ada sesuatu yang belum jelas.” Ini mendorong kita untuk mencari kebenaran lebih dalam, menimbang bukti, dan merefleksikan keyakinan kita—suatu proses yang sejalan dengan nasihat Alkitab: “Segala sesuatu harus diuji, dan yang baik harus diikuti” (1 Tesalonika 5:21). Dalam konteks ini, keraguan justru bisa menjadi pintu menuju iman yang lebih matang, bukan lawannya.   Namun, secara emosional, keraguan memang sering disertai kecemasan. Ketika masa depan terasa ...

Dua Jenis Keraguan

Image
... Membangun Vs. Menghancurkan Iman ...  Di awal tahun 2026, dunia terasa semakin tidak menentu. Ketidakstabilan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan arus informasi digital yang membingungkan membuat banyak orang—termasuk orang percaya—mengalami pergumulan batin yang dalam. Di tengah semua ini, keraguan bukanlah tanda kelemahan iman, melainkan bagian alami dari perjalanan rohani. Namun, tidak semua keraguan sama. Alkitab mengungkap dua wajah keraguan yang sangat berbeda—satu membawa kita lebih dekat pada Tuhan, yang lain justru menyeret kita menjauh. Keraguan Tomas: Jujur, Bertanya, dan Mencari Kebenaran Ketika para murid berkata kepada Tomas, “Kami telah melihat Tuhan!”, responsnya tegas: “Kecuali aku melihat bekas paku di tangan-Nya dan menaruh tanganku ke dalam lambung-Nya, aku tidak akan percaya” (Yohanes 20:25). Sikap ini sering disebut “keraguan Thomas”, bahkan dijadikan label negatif. Tapi sebenarnya, Tomas bukan pemberontak—ia seorang pencari kebenaran. Ia tidak menolak keb...

Mengenang Pertolongan Ilahi dalam Perjalanan Iman

“Sampai di Sini TUHAN Menolong Kita”: Mengenang Pertolongan Ilahi dalam Perjalanan Iman Kisah dalam 1 Samuel 7:1–17 bukan sekadar catatan sejarah kuno, melainkan undangan abadi bagi umat percaya untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mengenang titik-titik di mana Allah nyata menyertai. Di tengah pergumulan, kegagalan, dan penindasan selama dua puluh tahun, bangsa Israel akhirnya kembali kepada TUHAN dengan pertobatan yang tulus. Mereka melepaskan Baal dan Asytoret—simbol penyembahan berhala yang selama ini menjauhkan mereka dari kasih setia Allah. Di bawah kepemimpinan rohani Samuel, umat berkumpul di Mizpa, menangisi dosa mereka, berpuasa, dan mencurahkan air sebagai lambang penyesalan yang mendalam. Respons mereka adalah model pertobatan komunal yang autentik: bukan hanya penyesalan lisan, tetapi tindakan nyata menjauh dari dosa dan kembali kepada penyembahan sejati. Allah tidak tinggal diam. Ketika orang Filistin datang menyerang, justru pada saat korban bakaran dipersemba...

Greeter sebagai Ekspresi Keramahtamahan Kristiani

Image
Dalam arus budaya kontemporer yang sering kali dipenuhi oleh sikap individualistik, transaksional, dan tertutup, pelayanan sebagai greeter—penyambut jemaat di gereja—bukanlah sekadar tugas protokoler atau tata tertib liturgis. Ia adalah bentuk nyata dari keramahtamahan ilahi yang dinyatakan dalam perjumpaan manusia. Di balik senyum, jabat tangan, dan sapaan hangat seorang greeter, tersirat sebuah teologi yang mendalam: bahwa gereja adalah tempat di mana setiap orang diterima, bukan karena status atau penampilan, melainkan karena kasih karunia Allah yang telah membuka jalan bagi semua melalui salib Kristus. Yesus sendiri, dalam kematian-Nya, menjadi “pintu” (Yohanes 10:9) yang mengundang semua orang masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa. Dengan demikian, greeter bukan hanya membuka pintu gedung, tetapi mencerminkan pintu itu sendiri—yaitu Kristus. Pelayanan ini menuntut lebih dari keramahan sosial. Ia memerlukan kedewasaan rohani, kerendahan hati, dan kesediaan untuk melihat setiap pen...

Mengapa Natal Masih Relevan?

Image
Tiga Hal yang Bikin Hidup Kita Berubah  Pernah ngerasa Natal itu kayak seasonal content ? Ada di feed Desember, hilang Januari. Lagu, lampu, hadiah—tapi dalamnya kosong. Banyak dari kita merayakan tanpa benar-benar tahu: kenapa Natal itu penting—bukan cuma buat nostalgia, tapi buat hidup kita sekarang? Alkitab bilang, Natal bukan soal tradisi—tapi soal Allah yang masuk ke dunia nyata . Bukan lewat istana, tapi palungan. Bukan lewat influencer, tapi gembala pinggiran. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita”  (Yohanes 1:14). Ini bukan metafora. Ini berita: Tuhan hadir di tengah kekacauan hidup kita. Dan di balik kelahiran itu, ada tiga hal yang mengubah segalanya : Pertama, Natal adalah kabar baik yang membebaskan.    Nama “Yesus” artinya “Tuhan menyelamatkan”  (Matius 1:21). Tapi jangan bayangkan “diselamatkan” cuma soal masuk surga nanti. Ini soal kebebasan hari ini :   - Hati nurani yang ringan —karena semua dosa—yang lalu, yang lag...

Hidup Dalam Kebebasan Yang Diberikan Kristus

Image
Hidup Dalam Kebebasan Yang Diberikan Kristus Ketika Anda menyerahkan hidup Anda kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Anda tidak hanya diselamatkan dari hukuman dosa—Anda dimasukkan ke dalam kehidupan yang benar-benar merdeka . Ini bukan kebebasan sembarangan yang mengarah pada kebejatan, tetapi kebebasan yang membebaskan Anda untuk hidup sesuai rancangan ilahi: suci, penuh damai, dan penuh kuasa. Alkitab menyatakan bahwa dalam Kristus, kita menerima tiga kebebasan besar yang saling terkait dan mentransformasi seluruh keberadaan kita. 1. Hati Nurani yang Bersih: Kebebasan dari Beban Rasa Bersalah Yesus berkata, “ Jika Sang Anak memerdekakan kamu, maka kamu akan benar-benar merdeka. ”  (Yohanes 8:36,  Shellabear 2011 ). Kebebasan yang paling dalam bukanlah kebebasan politik atau ekonomi, melainkan kebebasan rohani—kebebasan dari belenggu dosa, penyesalan, dan rasa bersalah yang menggerogoti jiwa. Banyak orang hidup seolah membawa “kantong sampah” penuh dosa di pun...