Posts

Ketaatan sebagai Perlawanan: Dekonstruksi Kehendak di Getsemani

Image
Saudara-saudara, di Getsemani, kita menyaksikan bukan sekadar doa tradisional, melainkan pergulatan kuasa yang radikal. Yesus, yang secara budaya diharapkan menjadi Mesias penguasa politik, justru tampil rentan di hadapan murid-Nya. Teks menunjukkan "ekspresi emosional" yang mendalam: "hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya." Ini bukan kelemahan divinitas, melainkan solidaritas penuh dengan manusia yang tertindas oleh nasib dan sistem dunia. Dalam kacamata dunia, kepatuhan sering dianggap sebagai tanda kelemahan atau alat kekuasaan. Namun, kehendak Yesus membongkar narasi itu. Ketika Ia berkata, "Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki," Ia tidak sedang menyerah buta pada otoritas yang menindas. Sebaliknya, Ia menolak budaya otonomi diri yang egois. Ketaatan Yesus adalah bentuk perlawanan kritis terhadap logika dunia yang mengagungkan kekuasaan diri sendiri. Ini adalah subordinasi sukarela yang membeli kebebasan ...

Menapak Jejak Salib: Dekat oleh Darah Yesus, Setia dalam Langkah

Image
Shalom, saudara terkasih. Hari ini, di Minggu Prapaskah ke-5, kita berdiri di ambang Pekan Suci. Tema " Closer to the Cross " bukan sekadar lirik lagu, melainkan panggilan mendesak bagi kita yang berjalan menuju Yerusalem baru. Apa artinya makin dekat dengan salib di tengah dunia yang sibuk?   Berawal dari posisi kita di hadapan Allah . Kita dekat semata-mata karena darah-Nya . Efesus 2:13 mengingatkan, "Kamu yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Kristus." Secara teologis, ini adalah dasar keselamatan kita. Dosa memang memisahkan, namun inisiatif pendamaian datang dari Tuhan. Salib Kristus adalah jembatan yang menghapus jarak itu. Jangan menjauh saat merasa tidak layak; justru saat itulah kita harus berlari ke arah salib. Keselamatan adalah karya selesai-Nya, bukan hasil usaha kita.   Karena sudah diselamatkan, kita diundang untuk bersekutu dengan-Nya. Filipi 3:10 mengajak kita "mengenal Dia dan persekutuan dalam penderitaan-Nya." Ini...

Greater Glory: Harapan di Tengah Keterbatasan

Image
Sebuah Refleksi atas Hagai 2:1-9.  Kitab Hagai 2:1-9 menyajikan sebuah narasi yang mendalam tentang pemulihan iman di tengah kekecewaan historis. Pasca-pembuangan Babel, umat Israel kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Allah. Namun, realitas di lapangan jauh dari harapan. Mereka yang pernah melihat kemegahan Bait Salomo merasa bangunan baru ini "seperti tidak ada artinya". Perbandingan dengan masa lalu menjadi beban psikologis yang melumpuhkan visi masa depan, menciptakan krisis spiritual yang relevan hingga kini. Dalam menghadapi krisis ini, Tuhan menawarkan tiga langkah transformasi. Pertama, validasi emosional diikuti penguatan spiritual. Tuhan tidak menyalahkan perasaan kecewa umat-Nya, melainkan memerintahkan "Kuatkanlah hatimu" kepada seluruh lapisan kepemimpinan—politik, religius, dan masyarakat umum. Ini menegaskan bahwa pemulihan adalah usaha kolaboratif yang membutuhkan ketangguhan mental berbasis firman Tuhan, bukan sekadar optimisme manusia ...

JEHOVAH JIREH: TUHAN YANG MENYEDIAKAN

RENUNGAN KRISTEN UNTUK ORANG MUDA JEHOVAH JIREH: TUHAN YANG MENYEDIAKAN 📖 AYAT DASAR > "Jadi Abraham menamai tempat itu: Tuhan menyediakan; karena itu sampai sekarang dikatakan: 'Di atas gunung Tuhan akan disediakan.'" > — Kejadian 22:14 (TB) 🔥 PEMBUKAAN: PERNAHKAH KAMU MERASA "MENTOK"? Hey, Sobat Muda! 👋 Pernah nggak sih kamu berada di situasi yang bikin kamu bertanya: - "Tuhan, di mana jalan keluarnya?" - "Aku butuh bantuan, tapi dari mana?" - "Apakah Tuhan peduli dengan masalahku?" Mungkin kamu sedang menghadapi: - 📚 Tekanan ujian atau tugas yang menumpuk - 💰 Masalah keuangan (uang saku pas-pasan) - 💔 Hubungan yang retak dengan teman atau keluarga - 🎯 Kebingungan menentukan masa depan - 😰 Kecemasan akan hari esok Tenang. Kamu nggak sendirian. Abraham juga pernah merasakan hal yang sama. 📖 CERITA ABRAHAM: UJIAN IMAN YANG NYATA Bayangkan ini: Allah meminta Abraham untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal, Ishak...

Mengutamakan Persahabatan dengan Tuhan di Tengah Nilai Dunia

Image
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, banyak orang terjebak dalam pengejaran hal-hal duniawi tanpa menyadari bahwa mereka telah melewatkan esensi paling fundamental dari keberadaan mereka. Sebagaimana dikutip dalam 1 Timotius 6:21, sebagian orang gagal mengenal Tuhan, padahal itu adalah hal paling penting dalam hidup. Teks ini mengajak kita untuk berefleksi mengenai prioritas persahabatan kita. Kita tidak memiliki waktu untuk menjadikan semua orang sebagai sahabat terbaik; kita harus memilih siapa yang paling ingin kita dekatkan. Pilihan tertinggi seharusnya jatuh kepada Tuhan, namun sering kali kita justru mengabaikan-Nya demi hubungan yang kurang substansial. Realitas sering kali menunjukkan kontras yang tajam. Banyak individu yang hafal skor olahraga, harga saham, atau alur cerita sinetron, namun kosong akan pengetahuan tentang Tuhan. Mereka terjebak dalam gangguan kehidupan yang mengalihkan fokus dari yang kekal kepada yang sementara. Yakobus 4:4 memberikan perin...

Memimpin Seperti Guru: Refleksi atas Matius 20:20-28 bagi Pelayanan Pastoral

Image
Dalam narasi Matius 20:20-28, kita menyaksikan momen yang mengguncang paradigma kepemimpinan: dua murid, melalui ibu mereka, meminta posisi kehormatan di sebelah kiri dan kanan Yesus. Respons-Nya bukanlah teguran keras, melainkan pengajaran radikal yang mengubah arsitektur kepemimpinan selamanya: " Tidaklah demikian di antara kamu... Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu " (ay. 26-27). Di sinilah Yesus tidak sekadar memberikan nasihat—Dia mendekonstruksi logika kuasa dunia dan membangun fondasi baru: kepemimpinan yang berakar pada pelayanan. Sebagai pendeta, setiap tindakan dan perkataan kita bukanlah ekspresi pribadi semata; ia adalah pesan teologis yang nyata. Apa yang kita lakukan ketika jemaat gagal? Bagaimana kita merespons kesalahan sesama pelayan? Di sanalah nilai-nilai Kerajaan Allah diuji. Dunia mengajarkan bahwa otoritas dibangun melalui kontrol, disiplin keras, dan hierarki yang kaku—" memerintah dengan tangan besi ...

Jehovah Jireh: Allah yang Menyediakan dalam Perspektif Kristen

Image
   Dalam tradisi Kristen, “Jehovah Jireh” (atau lebih tepatnya “Yahweh Yireh”) adalah nama ilahi yang berasal dari kisah Abraham dan Ishak dalam Kejadian 22. Ketika Allah menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan putranya, Ishak, Abraham taat sepenuhnya—namun pada saat terakhir, Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai ganti korban. Di sanalah Abraham menamai tempat itu “Yahweh Yireh,” yang berarti “Tuhan akan menyediakan” (Kejadian 22:14). Nama ini bukan sekadar janji material, melainkan pewahyuan mendalam tentang karakter Allah: Ia melihat kebutuhan umat-Nya dan menyediakan jalan keluar, bahkan melalui pengganti yang tak terduga.   Secara teologis, peristiwa di Moria menjadi bayangan (tipe) dari penyediaan tertinggi Allah dalam Perjanjian Baru: Yesus Kristus, Anak-Nya sendiri, yang dikorbankan sebagai Anak Domba Penebus dosa dunia (Yohanes 1:29). Seperti domba jantan menggantikan Ishak, demikian pula Kristus menggantikan umat manusia dalam hukuman dosa...

Tanggapan Kritis terhadap Penelitian "Memahami Ulang Perintisan Gereja"

Image
  Penelitian oleh Aleng dkk*. ini memberikan kontribusi penting dalam diskursus misiologi kontemporer Indonesia, khususnya dalam memperjelas terminologi yang selama ini kabur dalam praktik gerejawi. Berikut analisis kritis yang seimbang:   Kekuatan Signifikan   1. Relevansi Kontekstual yang Mendesak  Temuan bahwa 45,7% pertumbuhan gereja di Indonesia berasal dari perpindahan jemaat (bukan penginjilan) merupakan wake-up call teologis yang krusial. Ini menggugah gereja untuk merefleksikan apakah pertumbuhan numerik benar-benar mencerminkan pertumbuhan misi Kristus atau sekadar redistribusi jemaat yang sudah percaya.   2. Kerangka Konseptual yang Operasional  Pembedaan church starting (ekspansi berbasis lower room : fasilitas, program, relasi) dan church planting (inisiatif berbasis upper room : penginjilan dan pemuridan) memberikan alat evaluasi konkret bagi gereja untuk menilai orientasi pelayanannya. Distingsi ini tidak hanya teoretis t...

“Cari Panggung”: Fenomena Pencitraan dalam Ruang Publik Indonesia

Image
  Istilah “cari panggung” bukanlah sebuah ideologi formal, melainkan narasi kritis yang muncul dalam wacana sosial-politik Indonesia sebagai bentuk kecaman terhadap praktik pencitraan. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan tindakan figur publik—baik politisi, intelektual, maupun selebritas—yang dianggap lebih fokus pada pencarian pengakuan dan popularitas daripada menyampaikan gagasan substantif atau melayani kepentingan bersama. Fenomena ini mencerminkan kecemasan masyarakat terhadap pergeseran logika politik dari pelayanan publik menuju manajemen citra, terutama di era digital.   Latar belakang narasi ini berakar pada dinamika politik pasca-Reformasi, di mana demokratisasi justru membuka ruang luas bagi politik spektakuler. Media sosial, yang awalnya diharapkan menjadi sarana partisipasi demokratis, kini kerap menjadi medan pertarungan pencitraan. Setiap ucapan, gerakan, bahkan diam, bisa dikemas sebagai konten viral yang menarik perhatian, sering kali dengan mengorb...

Marwah Gereja dalam Perspektif Perjanjian Baru

Image
  Marwah Gereja, menurut Alkitab—khususnya Perjanjian Baru—bukanlah soal gedung megah, jumlah jemaat yang banyak, atau pengaruh di media sosial. Marwah Gereja adalah identitas ilahi yang diberikan oleh Allah sendiri. Kata “gereja” dalam bahasa aslinya (ekklēsia) berarti “komunitas yang dipanggil keluar”—bukan untuk mengasingkan diri, melainkan untuk menjadi utusan kasih Allah di tengah dunia. Bayangkan seperti tim yang dipilih Sang Raja untuk misi khusus: bukan karena hebat, tapi karena dipercaya.   Identitas ini ditegaskan ketika jemaat Korintus disebut “orang-orang kudus” (hagioi) , bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka telah dikuduskan “dalam Kristus Yesus” (1 Korintus 1:2). Kesucian ini adalah anugerah sekaligus panggilan: hidup selaras dengan kasih Kristus—misalnya, menyelesaikan perselisihan dengan damai di antara sesama jemaat, bukan membawa perkara ke pengadilan duniawi (1 Korintus 6:1–6). Di tengah budaya yang sering mengukur harga diri dari kekaya...

Ucapan Syukur yang Mengubah Hidup: Dari Ritual ke Gaya Hidup Iman

Image
   Di tengah ketidakpastian zaman—tekanan ekonomi, pergumulan keluarga, atau kecemasan akan masa depan—Alkitab menawarkan jalan yang berbeda: ucapan syukur . Namun, ucapan syukur dalam perspektif Kristen bukanlah sekadar ungkapan emosional saat semuanya berjalan lancar. Ia adalah fondasi teologis, tindakan iman, dan gaya hidup yang membentuk cara kita memandang Allah, sesama, dan panggilan kita di dunia ini.   Alkitab menunjukkan bahwa ucapan syukur berakar pada anugerah Allah —pemberian-Nya yang cuma-cuma, terutama dalam Yesus Kristus. Kita tidak bersyukur karena layak, tetapi karena telah menerima kasih karunia yang tak terbayangkan. Respons ini tampak nyata dalam kisah-kisah Alkitab: Nuh membangun altar setelah banjir besar sebagai pengakuan atas penyelamatan Tuhan; Paulus dan Silas bernyanyi di penjara meski tubuh mereka lecet dan hati penuh luka. Mereka tidak mengabaikan penderitaan, tetapi memilih untuk mengingat: Allah hadir bahkan di tempat yang paling gelap...

Literasi Digital Indonesia: Antara Momentum dan Kebutuhan Transformasi Sistemik

Image
Indonesia kini berada di persimpangan penting dalam upaya membangun literasi digital nasional. Di satu sisi, pemerintah menunjukkan komitmen kuat melalui inisiatif seperti Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) #MakinCakapDigital yang berskala masif dan kolaboratif. Namun, di sisi lain, terdapat paradoks mencolok: masyarakat sangat aktif secara daring—Indonesia bahkan menempati peringkat ke-8 dunia dalam durasi penggunaan internet—tetapi kualitas literasi digitalnya masih rendah, tercermin dari peringkat Indeks Pembangunan TIK (IDI) yang hanya berada di posisi ke-111 dari 176 negara. Tantangan utama terletak pada kesenjangan antara adopsi teknologi dan penguasaan kompetensi digital yang bermakna. Empat pilar literasi digital—keterampilan teknologi, keamanan siber, evaluasi informasi, dan partisipasi digital—belum merata di seluruh segmen masyarakat. Pelajar kerap hanya diberi akses perangkat tanpa pelatihan guru yang memadai; tenaga kerja butuh keterampilan digital yang relevan denga...

Perceraian dalam Keluarga Kristen: Luka Teologis, Pastoral, dan Generasional

Image
  Perceraian di kalangan keluarga Kristen—terutama di lingkungan hamba Tuhan—bukan hanya krisis pribadi, tetapi luka yang menyebar ke ranah teologis, pastoral, dan generasional. Secara teologis, gereja sering terjebak dalam ketidakpastian doktrinal. Alkitab memang menegaskan pernikahan sebagai ikatan sakral yang “tidak boleh dipisahkan manusia” (Markus 10:9), namun penafsiran tentang pengecualian (misalnya “karena zina” dalam Matius 19:9) dan status pernikahan ulang masih diperdebatkan. Akibatnya, jemaat kehilangan kompas moral yang jelas. Sementara itu, hamba Tuhan yang bercerai kerap dihukum tanpa proses pemulihan—suatu sikap yang ironisnya bertentangan dengan inti Injil: anugerah dan pengampunan.   Dari sisi pastoral, respons gereja justru sering memperparah luka. Banyak jemaat yang bercerai merasa dihakimi, diasingkan, bahkan diminta diam demi menjaga “citra suci” komunitas. Studi menunjukkan bahwa mereka—termasuk mantan pemimpin rohani—sering akhirnya meninggalkan j...

Uang dan Politik dalam Perspektif Alkitab: Kepemimpinan sebagai Amanat Suci

Image
Alkitab tidak mengutuk kekayaan sebagai entitas netral, melainkan mengecam keterikatan hati pada uang dan penggunaannya untuk menindas sesama. Inti ajarannya terletak pada penempatan otoritas ilahi sebagai fondasi segala bentuk kepemilikan dan pemerintahan. Segala sesuatu—harta, jabatan, pengaruh politik—bukan milik mutlak manusia, melainkan amanat suci (stewardship) yang harus dikelola dengan integritas dan akuntabilitas kepada Tuhan. Prinsip ini menjadi dasar etika politik yang secara tegas menolak korupsi, nepotisme, dan eksploitasi sistem demi kepentingan pribadi. Kisah-kisah Alkitab memberikan peringatan nyata tentang bahaya ketika uang dan politik menyatu tanpa batas moral. Kasus Raja Ahab yang merebut kebun Nabot melalui persekongkolan hukum (1 Raja-raja 21) adalah potret klasik penyalahgunaan kekuasaan negara untuk keuntungan pribadi. Di sini, hukum, pengadilan, dan kekuasaan eksekutif digunakan bukan untuk menegakkan keadilan, tetapi untuk melegalkan ketidakadilan. Demikian pu...

Yesus yang Merendahkan Diri: Jejak Inkarnasi, Pelayanan, dan Penebusan

Image
Pernyataan bahwa “Yesus merendahkan diri-Nya dari Tuhan menjadi manusia, menjadi hamba, menjadi manusia yang menanggung dosa hingga mati di kayu salib” bukan sekadar gambaran puitis, melainkan ringkasan teologis yang mendalam tentang seluruh misi penyelamatan Kristus. Proses perendahan ini—dikenal dalam tradisi Kristen sebagai kenosis —bukanlah kehilangan esensi ilahi, melainkan tindakan sukarela Sang Anak Allah untuk mengosongkan diri dari kemuliaan surgawi dan memasuki realitas manusia yang terbatas, rapuh, dan berdosa. Ini adalah fondasi doktrinal iman Kristen, yang secara jelas dirumuskan dalam Konsili-konsili awal Gereja, terutama Chalcedon (451 M), yang menegaskan bahwa Yesus adalah satu pribadi dengan dua alam: sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Perendahan dimulai pada titik inkarnasi. Di sini, Yesus tidak melepaskan keilahian-Nya, tetapi justru mencurahkan esensi ilahi ke dalam tubuh manusia. Seperti ditegaskan oleh Athanasius, inkarnasi bukan reaksi darurat terhadap dosa...

Bijak di Dunia Digital: Melawan Ujaran Kebencian dengan Hikmat dan Kasih

Image
Salam damai untuk kita semua, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Di tengah hiruk-pikuk media sosial—tempat kita berbagi kabar, menyuarakan pendapat, bahkan mencari teman—ada bayangan gelap yang terus mengintai: ujaran kebencian. Mungkin kita pernah melihat komentar pedas yang menyerang agama seseorang, ejekan terhadap latar belakang etnis, atau narasi provokatif yang memecah belah kelompok. Itu bukan sekadar “komentar kasar”. Itu adalah bentuk nyata dari hate speech—ujaran kebencian—yang kini menjadi tantangan serius bagi persatuan dan kemanusiaan kita di Indonesia. Sebagai pengguna media sosial, kita perlu tahu: ini bukan hanya soal etika, tapi juga hukum. Di Indonesia, ujaran kebencian diatur dalam Undang-Undang ITE, khususnya Pasal 28 ayat (2), yang melarang penyebaran informasi yang menimbulkan permusuhan berdasarkan Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA). Namun, undang-undang ini sering kali ambigu. Kata-kata seperti “permusuhan” atau “kebencian” bisa ditafsirkan luas—terka...

Mendidik Bukan Hanya Mengajar: Membentuk Manusia Utuh dalam Terang Injil

Image
Di tengah tekanan untuk mengejar nilai, kelulusan, dan reputasi institusi, kita mudah lupa: pendidikan Kristen bukan proyek akademis, melainkan panggilan kerohanian. Ia bukan sekadar menyisipkan ayat Alkitab di awal pelajaran, tetapi menempatkan Kristus sebagai pusat seluruh proses belajar—mengintegrasikan iman, ilmu, dan karakter dalam satu gerakan utuh.   Pendidikan berpedoman Injil dibangun di atas tiga fondasi:    Pertama , kurikulum yang terintegrasi—di mana setiap mata pelajaran, dari matematika hingga seni, diajak untuk merefleksikan kebenaran, keindahan, dan keadilan Allah.    Kedua , metodologi yang transformatif—bukan hanya mentransfer informasi, tetapi membentuk cara berpikir dan merespons dunia. Di SD, kita gunakan narasi Alkitab untuk membangun imajinasi moral; di SMP-SMA, kita latih siswa berpikir kritis melalui lensa Injil; di perguruan tinggi, kita dampingi mereka mengejar kebijaksanaan, bukan sekadar gelar.    Ket...
Image
Mengasihi Tuhan dengan Hati, Jiwa, Akal, dan Tindakan Mengasihi Tuhan bukan hanya perasaan hangat di hari Minggu atau ritual rutin yang kita ulang setiap pekan. Itu adalah komitmen total yang melibatkan seluruh diri kita: hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Markus 12:30). Yesus menempatkan perintah ini sebagai yang terutama—bukan sebagai beban, tetapi sebagai undangan untuk hidup utuh dalam relasi dengan Allah. Markus 12:30 (TB) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu." Dalam komunitas yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kasih itu tidak berhenti pada doa pribadi. Ia diwujudkan dalam disiplin rohani bersama—dalam kelompok kecil yang saling meneguhkan, dalam pembacaan firman yang mendalam, bahkan dalam jalan kaki yang tenang sambil merenungkan kebaikan-Nya. Kasih kepada Tuhan juga melibatkan akal budi: kita belajar, merenungkan, dan memahami kebenaran-Nya.  Seperti kata Roma 12:2,...

Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan

Image
Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan, Bukan Penjelasan Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Pernahkah hidup tiba-tiba runtuh? Saat mimpi hancur, hubungan retak, kesehatan memburuk, atau keadilan terasa jauh—apa yang pertama kali kita cari? Biasanya, kita mencari jawaban: “Mengapa ini terjadi padaku?” Kita ingin penjelasan. Tapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: penjelasan tidak pernah menghibur. Bahkan jika kita tahu “alasannya,” rasa sakit tetap ada. Penjelasan tidak menghapus air mata, tidak menyembuhkan luka hati, dan tidak mencegah kepahitan. Roma 8:28 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan maksud-Nya.” Ayat ini bukan janji bahwa semua hal adalah baik, tetapi bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan. Ia tidak meninggalkan kita di tengah kekacauan. Ia hadir—dan itulah yang paling kita butuhkan. Kita sering berpikir sep...

Bertemu Yesus di Kolam Siloam

Bertemu Yesus di Kolam Siloam Yohanes 9:1–7 (dengan gema dari Yesaya 8:6 dan Yohanes 7:37–38)   Pendahuluan: Sebuah Tempat yang Bernama “Diutus” Di tengah kota Yerusalem yang kuno, tersembunyi di antara tembok batu dan pohon zaitun, ada sebuah kolam kecil bernama Siloam—yang artinya “diutus”. Bukan tempat megah seperti Bait Suci, bukan pula pusat keramaian. Namun di sanalah Yesus melakukan suatu mujizat yang mengubah segalanya—bukan hanya bagi seorang buta, tetapi bagi setiap orang yang rindu melihat kebenaran. Saudara-saudari, hari ini banyak dari kita berjalan dengan mata terbuka—namun tetap buta. Buta terhadap dosa pribadi. Buta terhadap ketidakadilan sistemik. Buta terhadap kebiasaan kita menutup mata terhadap korupsi, ketimpangan, atau bahkan kebutuhan kita sendiri akan anugerah Tuhan. Seperti para pemimpin agama dalam Yohanes 9, kita mungkin mengaku “melihat”—padahal Sang Terang sedang berdiri di hadapan kita. Mujizat: Lumpur, Perintah, dan Pemulihan Yesus melihat seoran...