Mengasihi Tuhan dengan Hati, Jiwa, Akal, dan Tindakan
Mengasihi Tuhan bukan hanya perasaan hangat di hari Minggu atau ritual rutin yang kita ulang setiap pekan. Itu adalah komitmen total yang melibatkan seluruh diri kita: hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Markus 12:30). Yesus menempatkan perintah ini sebagai yang terutama—bukan sebagai beban, tetapi sebagai undangan untuk hidup utuh dalam relasi dengan Allah.
Markus 12:30 (TB) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu."
Dalam komunitas yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kasih itu tidak berhenti pada doa pribadi. Ia diwujudkan dalam disiplin rohani bersama—dalam kelompok kecil yang saling meneguhkan, dalam pembacaan firman yang mendalam, bahkan dalam jalan kaki yang tenang sambil merenungkan kebaikan-Nya. Kasih kepada Tuhan juga melibatkan akal budi: kita belajar, merenungkan, dan memahami kebenaran-Nya.
Seperti kata Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Mengasihi Tuhan berarti juga mencintai kebenaran dan berpikir dengan cara yang membawa damai sejahtera.
Namun, kasih kepada Tuhan tak pernah terpisah dari kasih kepada sesama. Yohanes tegas: “Jika seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta” (1 Yohanes 4:20).
Komunitas yang setia pada panggilan ini aktif melayani—bukan untuk pamer, tetapi karena kasih yang telah diterima. Mengasihi Tuhan bisa terjadi saat kita memilih sabar pada anak yang rewel, jujur dalam laporan keuangan, atau memberi waktu mendengar tetangga yang kesepian.
Di tengah godaan untuk menyamakan iman dengan identitas politik, atau mengganti kedalaman rohani dengan ritual tanpa makna, kita dipanggil menjadi garam dan terang: setia pada Injil, rendah hati dalam relasi, dan berani menegakkan keadilan.
Mari mulai minggu ini: luangkan lima menit setiap pagi bukan hanya untuk membaca firman, tapi bertanya, “Tuhan, bagaimana aku mengasihi-Mu lewat tindakanku hari ini?” Sebab mengasihi Tuhan bukan soal seberapa sering kita ke gereja, tapi seberapa setia kita membawa kasih-Nya ke dapur, kantor, pasar, dan media sosial kita—dengan integritas, kerendahan hati, dan kasih yang nyata.