Ketaatan sebagai Perlawanan: Dekonstruksi Kehendak di Getsemani
Saudara-saudara, di Getsemani, kita menyaksikan bukan sekadar doa tradisional, melainkan pergulatan kuasa yang radikal. Yesus, yang secara budaya diharapkan menjadi Mesias penguasa politik, justru tampil rentan di hadapan murid-Nya. Teks menunjukkan "ekspresi emosional" yang mendalam: "hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya." Ini bukan kelemahan divinitas, melainkan solidaritas penuh dengan manusia yang tertindas oleh nasib dan sistem dunia. Dalam kacamata dunia, kepatuhan sering dianggap sebagai tanda kelemahan atau alat kekuasaan. Namun, kehendak Yesus membongkar narasi itu. Ketika Ia berkata, "Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki," Ia tidak sedang menyerah buta pada otoritas yang menindas. Sebaliknya, Ia menolak budaya otonomi diri yang egois. Ketaatan Yesus adalah bentuk perlawanan kritis terhadap logika dunia yang mengagungkan kekuasaan diri sendiri. Ini adalah subordinasi sukarela yang membeli kebebasan ...