Posts

Tanggapan Kritis terhadap Penelitian "Memahami Ulang Perintisan Gereja"

Image
  Penelitian oleh Aleng dkk*. ini memberikan kontribusi penting dalam diskursus misiologi kontemporer Indonesia, khususnya dalam memperjelas terminologi yang selama ini kabur dalam praktik gerejawi. Berikut analisis kritis yang seimbang:   Kekuatan Signifikan   1. Relevansi Kontekstual yang Mendesak  Temuan bahwa 45,7% pertumbuhan gereja di Indonesia berasal dari perpindahan jemaat (bukan penginjilan) merupakan wake-up call teologis yang krusial. Ini menggugah gereja untuk merefleksikan apakah pertumbuhan numerik benar-benar mencerminkan pertumbuhan misi Kristus atau sekadar redistribusi jemaat yang sudah percaya.   2. Kerangka Konseptual yang Operasional  Pembedaan church starting (ekspansi berbasis lower room : fasilitas, program, relasi) dan church planting (inisiatif berbasis upper room : penginjilan dan pemuridan) memberikan alat evaluasi konkret bagi gereja untuk menilai orientasi pelayanannya. Distingsi ini tidak hanya teoretis t...

“Cari Panggung”: Fenomena Pencitraan dalam Ruang Publik Indonesia

Image
  Istilah “cari panggung” bukanlah sebuah ideologi formal, melainkan narasi kritis yang muncul dalam wacana sosial-politik Indonesia sebagai bentuk kecaman terhadap praktik pencitraan. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan tindakan figur publik—baik politisi, intelektual, maupun selebritas—yang dianggap lebih fokus pada pencarian pengakuan dan popularitas daripada menyampaikan gagasan substantif atau melayani kepentingan bersama. Fenomena ini mencerminkan kecemasan masyarakat terhadap pergeseran logika politik dari pelayanan publik menuju manajemen citra, terutama di era digital.   Latar belakang narasi ini berakar pada dinamika politik pasca-Reformasi, di mana demokratisasi justru membuka ruang luas bagi politik spektakuler. Media sosial, yang awalnya diharapkan menjadi sarana partisipasi demokratis, kini kerap menjadi medan pertarungan pencitraan. Setiap ucapan, gerakan, bahkan diam, bisa dikemas sebagai konten viral yang menarik perhatian, sering kali dengan mengorb...

Marwah Gereja dalam Perspektif Perjanjian Baru

Image
  Marwah Gereja, menurut Alkitab—khususnya Perjanjian Baru—bukanlah soal gedung megah, jumlah jemaat yang banyak, atau pengaruh di media sosial. Marwah Gereja adalah identitas ilahi yang diberikan oleh Allah sendiri. Kata “gereja” dalam bahasa aslinya (ekklēsia) berarti “komunitas yang dipanggil keluar”—bukan untuk mengasingkan diri, melainkan untuk menjadi utusan kasih Allah di tengah dunia. Bayangkan seperti tim yang dipilih Sang Raja untuk misi khusus: bukan karena hebat, tapi karena dipercaya.   Identitas ini ditegaskan ketika jemaat Korintus disebut “orang-orang kudus” (hagioi) , bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka telah dikuduskan “dalam Kristus Yesus” (1 Korintus 1:2). Kesucian ini adalah anugerah sekaligus panggilan: hidup selaras dengan kasih Kristus—misalnya, menyelesaikan perselisihan dengan damai di antara sesama jemaat, bukan membawa perkara ke pengadilan duniawi (1 Korintus 6:1–6). Di tengah budaya yang sering mengukur harga diri dari kekaya...

Ucapan Syukur yang Mengubah Hidup: Dari Ritual ke Gaya Hidup Iman

Image
   Di tengah ketidakpastian zaman—tekanan ekonomi, pergumulan keluarga, atau kecemasan akan masa depan—Alkitab menawarkan jalan yang berbeda: ucapan syukur . Namun, ucapan syukur dalam perspektif Kristen bukanlah sekadar ungkapan emosional saat semuanya berjalan lancar. Ia adalah fondasi teologis, tindakan iman, dan gaya hidup yang membentuk cara kita memandang Allah, sesama, dan panggilan kita di dunia ini.   Alkitab menunjukkan bahwa ucapan syukur berakar pada anugerah Allah —pemberian-Nya yang cuma-cuma, terutama dalam Yesus Kristus. Kita tidak bersyukur karena layak, tetapi karena telah menerima kasih karunia yang tak terbayangkan. Respons ini tampak nyata dalam kisah-kisah Alkitab: Nuh membangun altar setelah banjir besar sebagai pengakuan atas penyelamatan Tuhan; Paulus dan Silas bernyanyi di penjara meski tubuh mereka lecet dan hati penuh luka. Mereka tidak mengabaikan penderitaan, tetapi memilih untuk mengingat: Allah hadir bahkan di tempat yang paling gelap...

Literasi Digital Indonesia: Antara Momentum dan Kebutuhan Transformasi Sistemik

Image
Indonesia kini berada di persimpangan penting dalam upaya membangun literasi digital nasional. Di satu sisi, pemerintah menunjukkan komitmen kuat melalui inisiatif seperti Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) #MakinCakapDigital yang berskala masif dan kolaboratif. Namun, di sisi lain, terdapat paradoks mencolok: masyarakat sangat aktif secara daring—Indonesia bahkan menempati peringkat ke-8 dunia dalam durasi penggunaan internet—tetapi kualitas literasi digitalnya masih rendah, tercermin dari peringkat Indeks Pembangunan TIK (IDI) yang hanya berada di posisi ke-111 dari 176 negara. Tantangan utama terletak pada kesenjangan antara adopsi teknologi dan penguasaan kompetensi digital yang bermakna. Empat pilar literasi digital—keterampilan teknologi, keamanan siber, evaluasi informasi, dan partisipasi digital—belum merata di seluruh segmen masyarakat. Pelajar kerap hanya diberi akses perangkat tanpa pelatihan guru yang memadai; tenaga kerja butuh keterampilan digital yang relevan denga...

Perceraian dalam Keluarga Kristen: Luka Teologis, Pastoral, dan Generasional

Image
  Perceraian di kalangan keluarga Kristen—terutama di lingkungan hamba Tuhan—bukan hanya krisis pribadi, tetapi luka yang menyebar ke ranah teologis, pastoral, dan generasional. Secara teologis, gereja sering terjebak dalam ketidakpastian doktrinal. Alkitab memang menegaskan pernikahan sebagai ikatan sakral yang “tidak boleh dipisahkan manusia” (Markus 10:9), namun penafsiran tentang pengecualian (misalnya “karena zina” dalam Matius 19:9) dan status pernikahan ulang masih diperdebatkan. Akibatnya, jemaat kehilangan kompas moral yang jelas. Sementara itu, hamba Tuhan yang bercerai kerap dihukum tanpa proses pemulihan—suatu sikap yang ironisnya bertentangan dengan inti Injil: anugerah dan pengampunan.   Dari sisi pastoral, respons gereja justru sering memperparah luka. Banyak jemaat yang bercerai merasa dihakimi, diasingkan, bahkan diminta diam demi menjaga “citra suci” komunitas. Studi menunjukkan bahwa mereka—termasuk mantan pemimpin rohani—sering akhirnya meninggalkan j...

Uang dan Politik dalam Perspektif Alkitab: Kepemimpinan sebagai Amanat Suci

Image
Alkitab tidak mengutuk kekayaan sebagai entitas netral, melainkan mengecam keterikatan hati pada uang dan penggunaannya untuk menindas sesama. Inti ajarannya terletak pada penempatan otoritas ilahi sebagai fondasi segala bentuk kepemilikan dan pemerintahan. Segala sesuatu—harta, jabatan, pengaruh politik—bukan milik mutlak manusia, melainkan amanat suci (stewardship) yang harus dikelola dengan integritas dan akuntabilitas kepada Tuhan. Prinsip ini menjadi dasar etika politik yang secara tegas menolak korupsi, nepotisme, dan eksploitasi sistem demi kepentingan pribadi. Kisah-kisah Alkitab memberikan peringatan nyata tentang bahaya ketika uang dan politik menyatu tanpa batas moral. Kasus Raja Ahab yang merebut kebun Nabot melalui persekongkolan hukum (1 Raja-raja 21) adalah potret klasik penyalahgunaan kekuasaan negara untuk keuntungan pribadi. Di sini, hukum, pengadilan, dan kekuasaan eksekutif digunakan bukan untuk menegakkan keadilan, tetapi untuk melegalkan ketidakadilan. Demikian pu...