Melawan Narasi Kegagalan: Budaya Malu, Restorasi, dan Etika Penggembalaan
Di dunia yang cepat menghakimi dan cepat melupakan, kegagalan sering jadi aib yang kita sembunyikan. Setelah menyangkal Yesus tiga kali, Petrus tidak langsung bangkit. Ia mundur ke danau tempat ia biasa bekerja. “Aku pergi menangkap ikan,” katanya. Mungkin itu cara ia berkata: “Aku lelah. Aku takut mengecewakan lagi. Aku kembali ke yang paling aku kenal.” Tapi malam itu, jalanya kosong. Justru saat kita merasa tidak punya apa-apa untuk ditawarkan, saat rasa malu membuat kita ingin menghilang, di situlah Yesus mulai bergerak. Pagi itu, saat fajar mulai terang, Yesus berdiri di pantai. Ia tidak datang dengan daftar kesalahan Petrus. Ia hanya bertanya, “Anak-anak, ada lauk?” “Tidak ada,” jawab mereka. Dan dari sanalah Yesus bekerja. “Coba tebarkan jala di sisi kanan.” Tiba-tiba, jala itu penuh. Di darat, api sudah menyala. Roti dan ikan sudah siap. Sebelum Petrus punya kesempatan untuk memperbaiki diri atau meminta maaf, Yesus sudah menyiapkan sarapan. Pemulihan tidak dimulai dari kita ya...