Yesus Juruselamat: Memulihkan Yang Gagal, Mengutus Yang Dipulihkan
Setelah salib dan kubur kosong, Petrus justru berkata, “Aku pergi menangkap ikan.” Ia kembali ke perahu lama, ke identitas yang bisa dikendalikan, ke zona nyaman yang familiar. Namun malam itu, jala mereka kosong. Kegagalan itu bukan sekadar soal tangkapan; ia adalah cermin kekosongan hati, kebingungan identitas, dan kelelahan rohani. Di tengah keputusasaan itulah Yesus Juruselamat hadir. Ia tidak menunggu kita sempurna, melainkan menjemput kita di pantai kehidupan saat fajar mulai menyingsing. Pagi itu, Yesus berdiri di pantai, tetapi murid-murid tidak mengenali-Nya. Pertanyaan sederhana-Nya, “Adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” adalah undangan untuk jujur. Sebelum memberi, Ia meminta pengakuan akan “tidak ada” kita. Ketika mereka taat dan menebar jala di sebelah kanan perahu, terjadi keajaiban: seratus lima puluh tiga ekor ikan dan jala yang tidak koyak. Dan di darat, Yesus telah lebih dulu menyiapkan api arang, ikan, serta roti. Anugerah mendahului ketaatan. Ketika murid yang dikasihi...