Mengutamakan Persahabatan dengan Tuhan di Tengah Nilai Dunia
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, banyak orang terjebak dalam pengejaran hal-hal duniawi tanpa menyadari bahwa mereka telah melewatkan esensi paling fundamental dari keberadaan mereka. Sebagaimana dikutip dalam 1 Timotius 6:21, sebagian orang gagal mengenal Tuhan, padahal itu adalah hal paling penting dalam hidup. Teks ini mengajak kita untuk berefleksi mengenai prioritas persahabatan kita. Kita tidak memiliki waktu untuk menjadikan semua orang sebagai sahabat terbaik; kita harus memilih siapa yang paling ingin kita dekatkan. Pilihan tertinggi seharusnya jatuh kepada Tuhan, namun sering kali kita justru mengabaikan-Nya demi hubungan yang kurang substansial.
Realitas sering kali menunjukkan kontras yang tajam. Banyak individu yang hafal skor olahraga, harga saham, atau alur cerita sinetron, namun kosong akan pengetahuan tentang Tuhan. Mereka terjebak dalam gangguan kehidupan yang mengalihkan fokus dari yang kekal kepada yang sementara. Yakobus 4:4 memberikan peringatan keras bahwa mengasihi sistem nilai dunia sama dengan membenci Allah. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengasihi sesama manusia, melainkan kita tidak boleh mengasihi sistem nilai dunia yang berpusat pada materialisme, kesenangan, popularitas, dan prestise. Ketika hati kita dipenuhi oleh ambisi duniawi, tidak ada ruang tersisa untuk mengasihi Tuhan maupun sesama secara sungguh-sungguh.
Tuhan memiliki standar nilai yang berbeda dari dunia. Jika dunia terpaku pada citra luar dan status sosial, Tuhan tertarik pada karakter internal seseorang. Dia tidak peduli seberapa bagus penampilan Anda atau seberapa tinggi jabatan Anda, melainkan siapa Anda sebenarnya di hadapan-Nya. Tuhan mengasihi sesama manusia, dan Ia menginginkan kita untuk melakukan hal yang sama. Salah satu cara konkret menunjukkan kasih kepada Tuhan adalah dengan peduli pada apa yang Dia pedulikan. Jika Tuhan peduli pada manusia, maka kita pun harus menjadikan manusia dan kesejahteraan mereka sebagai prioritas, tentu saja dalam konteks kebenaran Alkitab.
Menjadi sahabat Tuhan bukanlah sekadar label religius, melainkan komitmen untuk menyelaraskan hati dengan hati-Nya. Ini berarti berhenti peduli pada hal-hal yang tidak Dia pedulikan, seperti validasi sosial atau harta benda yang fana. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: apa yang lebih penting daripada mengenal Tuhan? Mengapa kita sering lebih menghargai opini dunia daripada persetujuan Ilahi? Hubungan dengan sahabat manusia biasanya didasarkan pada kesamaan minat duniawi, namun hubungan dengan Tuhan harus didasarkan pada kesamaan nilai kebenaran.
Pada akhirnya, kualitas hubungan kita dengan Tuhan akan tercermin dari apa yang kita kejar sehari-hari. Jika kita mengklaim Tuhan sebagai sahabat terbaik, maka minat-Nya harus menjadi minat kita. Mengenal Tuhan bukan hanya tentang pengetahuan teologis, tetapi tentang transformasi karakter dan prioritas hidup. Memilih Tuhan sebagai sahabat terdekat berarti berani berbeda dari arus dunia, mengutamakan karakter di atas citra, dan mengasihi sesama sebagai wujud nyata dari kasih kepada Tuhan. Hanya dengan demikian, kita tidak akan melewatkan hal yang paling penting dalam hidup.