Menjelajahi Tanah Suci di Ruang Diplomatik yang Kosong: Ziarah Sub-Negara Warga Indonesia ke Israel
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua, shalom.
Om swastiastu,
Salam Namo Buddaya
Hadirin yang saya hormati,
Bayangkan Anda seorang warga negara
Indonesia—seorang Kristen dari Jawa atau seorang Yahudi dari Surabaya—yang
ingin mengunjungi Yerusalem, tempat Yesus disalibkan atau kota doa leluhur
Anda. Namun, negara Anda tidak mengakui Israel secara diplomatik. Tidak ada
kedutaan, tidak ada konsulat, dan kebijakan luar negeri secara resmi menyatakan
solidaritas dengan Palestina. Secara politik, perjalanan Anda bisa dianggap
“kontroversial”. Namun, setiap minggu, puluhan warga Indonesia seperti Anda
tetap berangkat—melalui agen perjalanan swasta—menuju “Tanah Suci” untuk ziarah
Alkitabiah.
Fenomena inilah yang menjadi pusat
penelitian kualitatif mendalam yang baru saya selesaikan. Ini bukan sekadar
pariwisata biasa. Ini adalah bentuk diplomasi sub-negara: ketika warga biasa,
didukung oleh aktor swasta, menciptakan koridor mobilitas lintas negara di
tengah kehampaan hubungan diplomatik resmi.
Penelitian ini dilakukan melalui wawancara
mendalam dengan 28 orang—18 wisatawan (12 Kristen, 4 Yahudi, 2 wisatawan
budaya) dan 10 perantara seperti staf agen perjalanan dan pemandu lokal.
Hasilnya mengungkap tiga temuan utama yang menggambarkan bagaimana warga
Indonesia menavigasi kompleksitas geopolitik, spiritual, dan logistik dalam
perjalanan ini.
Pertama, strategi “depolitisasi” melalui
narasi “Alkitabiah”.
Para peziarah tidak menyebut tujuan mereka
sebagai “Israel”, melainkan “Tanah Suci”—tempat kelahiran Yesus, jalan Via
Dolorosa, atau kota doa para nabi. Mereka menggunakan istilah “Alkitabiah”,
sebuah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk pada warisan Alkitab, bukan
negara modern. Ini bukan hanya pilihan kata, tapi strategi moral. Di tengah
masyarakat mayoritas Muslim yang solidaritasnya kuat terhadap Palestina, narasi
ini menjadi “bantalan moral” yang memungkinkan mereka memisahkan iman dari
politik.
Seorang peziarah Kristen berkata: “Saya
tidak pergi ke Israel, saya pergi ke Tanah Suci—tempat Yesus lahir, melayani,
dan bangkit. Ini bukan soal negara sekarang, tapi tanah yang disebut dalam
firman Tuhan.”
Sementara seorang peziarah Yahudi
menegaskan: “Kami melihat Yerusalem seperti nenek moyang kami lihat—sebagai
kota doa, bukan sebagai ibu kota negara modern.”
Narasi ini juga diperkuat oleh agen
perjalanan seperti Noah Tours, yang memasarkan paket mereka sebagai “Paket
Ziarah Alkitabiah: Untuk Semua Iman”. Ini memungkinkan bahkan wisatawan
budaya—yang mungkin tidak religius—ikut serta dengan memandang perjalanan ini
sebagai “arkeologi hidup”, bukan dukungan politik.
Kedua, agen perjalanan berperan sebagai
“infrastruktur pengganti negara”.
Bayangkan: tidak ada Kedutaan Besar Israel
di Jakarta. Lalu, siapa yang membantu Anda mengurus visa? Siapa yang memberi
informasi keamanan saat konflik meletus di Gaza? Siapa yang mengatur logistik,
menghubungi rumah sakit, atau bahkan menggantikan peran konsulat saat paspor
Anda hilang?
Jawabannya: agen perjalanan swasta,
terutama Noah Tours.
Mereka bukan sekadar penyedia jasa tour.
Mereka menjadi semacam otoritas de facto—penghubung, penjaga, bahkan penjamin
keselamatan. Seorang peserta berkata: “Saya tidak tahu harus ke mana. KBRI
bilang mereka tidak menangani Israel. Noah Tours bilang, ‘Serahkan saja pada
kami—kami sudah lakukan ini sejak 2017.’”
Agen ini memfilter informasi, menyaring
risiko, dan memberikan rasa aman psikologis. Mereka mengirim email saat ada
ketegangan: “Tur tetap jalan, kami hanya ke bagian aman Yerusalem dan
Haifa.” Ini menciptakan apa yang saya sebut “kepercayaan terstruktur”—tapi
juga kerentanan tersembunyi, karena semua risiko akhirnya ditanggung oleh
individu, bukan negara.
Ketiga, navigasi risiko yang berlapis dan
sangat personal.
Perjalanan ini penuh risiko—bukan hanya
secara geopolitik, tapi juga sosial dan administratif.
Beberapa peserta mengaku menyembunyikan
tujuan mereka dari tetangga. “Saya bilang pergi ke Eropa. Kalau tahu ke
Israel, mereka akan tanya: ‘Apakah kamu mendukung penjajahan?’ Padahal saya
cuma mau lihat Gereja Makam Kudus,” kata seorang ibu paruh baya.
Proses visanya rumit: 4–8 minggu, dokumen
ketat, dan biaya tambahan sebagai “buffer” untuk kemungkinan penolakan. Tidak
ada jaminan. Dan yang paling krusial: tidak ada dukungan darurat resmi. Seorang
peziarah Yahudi jujur: “Kalau saya sakit di Haifa, siapa yang urus paspor
saya? Tidak ada KJRI. Jawabannya: asuransi, Noah Tours, atau Tuhan. Urutan
itu.”
Inilah ironi utama: negara melarang secara
diam-diam, tapi warganya tetap pergi—dengan segala risiko—demi kebebasan
beragama. Dan mereka melakukannya bukan sebagai bentuk perlawanan, tapi sebagai
bentuk adaptasi kreatif dalam ruang yang sempit.
Hadirin yang budiman,
Studi ini mengajak kita melihat lebih dalam
pada dua hal:
Pertama, kebijakan luar negeri tidak selalu
mencerminkan realitas rakyat. Di balik solidaritas resmi terhadap Palestina,
ada warga negara minoritas yang mengejar hak spiritual mereka. Negara mungkin
diam, tapi kehidupan terus berjalan—melalui jaringan kepercayaan, komunitas
iman, dan pasar yang responsif.
Kedua, diplomasi tidak lagi monopoli
negara. Di era globalisasi, aktor non-negara—seperti agen perjalanan, komunitas
agama, atau bahkan influencer—bisa menciptakan jembatan lintas batas, bahkan
saat pemerintah memilih diam. Ini yang saya sebut “pariwisata diplomatik
sub-negara”: bentuk diplomasi informal yang dibangun di atas ritual, narasi,
dan kepercayaan interpersonal.
Penelitian ini juga menyoroti kerentanan
sistemik. Saat negara absen, beban jatuh pada individu. Asuransi perjalanan,
kewaspadaan ekstra, dan kehati-hatian dalam berbicara menjadi perlindungan
utama. Ini tidak adil—dan berbahaya. Oleh karena itu, saya merekomendasikan
agar pemerintah Indonesia dan Israel—meski tanpa hubungan diplomatik
penuh—membentuk mekanisme darurat bilateral, seperti penunjukan konsulat di
negara ketiga untuk warga Indonesia di Israel.
Tutup kata, perjalanan warga Indonesia ke
Israel bukan sekadar tur religi. Ini adalah kisah ketahanan minoritas, kreativitas
pasar, dan negosiasi moral di tengah tekanan geopolitik. Ini mengingatkan kita
bahwa di balik setiap kebijakan luar negeri yang kaku, ada manusia—dengan iman,
keraguan, harapan, dan keberanian untuk menempuh jalan yang tidak mudah.
Semoga penelitian ini membuka ruang dialog
yang lebih inklusif: antara politik dan iman, antara negara dan warga, antara
prinsip dan kemanusiaan.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua, shalom.
Om shanti, shanti, shanti Om,
Salam Namo Buddaya
----
*Naskah presentasi Pdt. Dr. Saortua Marbun, S.Th., M.A., M.M., pada ISCT 2025 #2nd Selasa, 9-12-2025.