Jehovah Jireh: Allah yang Menyediakan dalam Perspektif Kristen
Dalam tradisi Kristen, “Jehovah Jireh”
(atau lebih tepatnya “Yahweh Yireh”) adalah nama ilahi yang berasal dari kisah
Abraham dan Ishak dalam Kejadian 22. Ketika Allah menguji iman Abraham dengan
memintanya mempersembahkan putranya, Ishak, Abraham taat sepenuhnya—namun pada
saat terakhir, Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai ganti korban. Di
sanalah Abraham menamai tempat itu “Yahweh Yireh,” yang berarti “Tuhan akan
menyediakan” (Kejadian 22:14). Nama ini bukan sekadar janji material, melainkan
pewahyuan mendalam tentang karakter Allah: Ia melihat kebutuhan umat-Nya dan
menyediakan jalan keluar, bahkan melalui pengganti yang tak terduga.
Secara teologis, peristiwa di Moria menjadi
bayangan (tipe) dari penyediaan tertinggi Allah dalam Perjanjian Baru: Yesus
Kristus, Anak-Nya sendiri, yang dikorbankan sebagai Anak Domba Penebus dosa
dunia (Yohanes 1:29). Seperti domba jantan menggantikan Ishak, demikian pula
Kristus menggantikan umat manusia dalam hukuman dosa. Dengan demikian, Jehovah
Jireh tidak hanya berbicara tentang penyediaan kebutuhan sehari-hari, tetapi
terutama tentang penyediaan keselamatan yang kekal. Ini menegaskan bahwa iman sejati—seperti
iman Abraham—diuji melalui penyerahan total, dan Allah selalu setia memenuhi
janji-Nya bagi mereka yang percaya.
Dalam ibadah Kristen kontemporer, nama ini
telah menjadi sumber pengharapan dan pujian. Lagu-lagu seperti “Jireh” oleh
Elevation Worship mengungkapkan keyakinan bahwa “Engkau cukup”—suatu pengakuan
bahwa Allah sendiri adalah sumber kecukupan dalam segala keadaan. Baik dalam
himne tradisional maupun musik modern, Jehovah Jireh mengingatkan jemaat akan
kesetiaan Allah di masa lalu sebagai dasar untuk percaya di masa kini. Nama ini
juga menginspirasi pelayanan praktis: banyak organisasi Kristen menggunakan “Jireh”
dalam nama mereka untuk menekankan misi memberi pertolongan nyata kepada yang
miskin, yatim, atau terlantar—menjadi saluran penyediaan Allah di dunia nyata.
Dalam kehidupan pribadi, Jehovah Jireh
menjadi fondasi spiritual saat menghadapi ketidakpastian. Ia mengajak orang
percaya untuk tidak hanya meminta pertolongan, tetapi mempercayai Sang Pemberi.
Penyediaan Allah sering kali datang dalam bentuk yang tak terduga—bukan selalu
sesuai keinginan, tetapi selaras dengan rencana-Nya yang lebih besar. Dalam
konteks Indonesia, di mana tantangan ekonomi, sosial, dan spiritual sering
tumpang tindih, nama ini menawarkan ketenangan pastoral: Allah melihat, Allah
tahu, dan Allah akan menyediakan—tepat pada waktunya.
Perlu dicatat bahwa “Jehovah Jireh” adalah
gelar Alkitabiah, bukan merujuk pada kelompok agama tertentu seperti
Saksi-Saksi Yehuwa. Dalam perspektif ekumenis, baik Katolik, Ortodoks, maupun
Protestan mengakui makna kristologis dari kisah Kejadian 22, meski penekanannya
berbeda. Namun, semua sepakat: di tengah ujian terberat, Allah tidak pernah
meninggalkan umat-Nya. Ia adalah Jehovah Jireh—Allah yang melihat, menyediakan,
dan menyelamatkan.
--*--