Memimpin Seperti Guru: Refleksi atas Matius 20:20-28 bagi Pelayanan Pastoral
Dalam narasi Matius 20:20-28, kita menyaksikan momen yang mengguncang paradigma kepemimpinan: dua murid, melalui ibu mereka, meminta posisi kehormatan di sebelah kiri dan kanan Yesus. Respons-Nya bukanlah teguran keras, melainkan pengajaran radikal yang mengubah arsitektur kepemimpinan selamanya: *"Tidaklah demikian di antara kamu... Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu"* (ay. 26-27). Di sinilah Yesus tidak sekadar memberikan nasihat—Dia mendekonstruksi logika kuasa dunia dan membangun fondasi baru: kepemimpinan yang berakar pada pelayanan.
Sebagai pendeta, setiap tindakan dan perkataan kita bukanlah ekspresi pribadi semata; ia adalah pesan teologis yang nyata. Apa yang kita lakukan ketika jemaat gagal? Bagaimana kita merespons kesalahan sesama pelayan? Di sanalah nilai-nilai Kerajaan Allah diuji. Dunia mengajarkan bahwa otoritas dibangun melalui kontrol, disiplin keras, dan hierarki yang kaku—*"memerintah dengan tangan besi"*. Namun Yesus justru merendahkan diri-Nya, mengambil sikap hamba, dan membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan menghukum, melainkan pada keberanian merangkul dalam kasih karunia.
Inilah paradoks yang seringkali terasa berat bagi kita: budaya di mana kita dibesarkan—bahkan dalam lingkungan gereja—sering kali masih bernafaskan sistem Taurat: salah harus dihukum, kelemahan harus disembunyikan, dan otoritas harus dipertahankan dengan jarak. Namun Injil memanggil kita kepada sesuatu yang lebih radikal: ketika ada kesalahan, bukan cambuk yang diangkat, melainkan tangan yang terbuka untuk memulihkan. Bukan reputasi yang dipertahankan, melainkan relasi yang dipulihkan. Inilah inti pelayanan pastoral yang autentik.
Sebagai pemimpin GSJA, kita adalah arsitek budaya rohani. Nilai-nilai "Cinta Tuhan, Rendah Hati, Rajin, Jujur" tidak akan hidup hanya melalui dokumen visi-misi, tetapi melalui cara kita mendengar keluhan jemaat, menegur dengan lembut, mengakui kelemahan pribadi, dan memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kenyamanan kita. Setiap keputusan rapat, setiap khotbah, bahkan cara kita berbicara tentang rekan pelayan—semua itu sedang membangun DNA spiritual komunitas kita.
Marilah kita kembali kepada teladan Guru. Bukan pemimpin yang dilayani, melainkan yang melayani—bahkan sampai menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (ay. 28). Di dalam kerendahan itu, kuasa sejati dinyatakan. Di dalam pelayanan itu, Kerajaan Allah dinyatakan. Biarlah pelayanan kita—di tingkat daerah maupun nasional—menjadi kesaksian hidup bahwa cara Allah memimpin adalah dengan kasih yang merendahkan diri. Sebab hanya dalam kerendahan Kristus, GSJA ONE sungguh menjadi rumah bagi jiwa-jiwa yang rindu akan kasih karunia. Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita bersama.
--*--