Mengenang Pertolongan Ilahi dalam Perjalanan Iman
“Sampai di Sini TUHAN Menolong Kita”: Mengenang Pertolongan Ilahi dalam Perjalanan Iman
Kisah dalam 1 Samuel 7:1–17 bukan sekadar catatan sejarah kuno, melainkan undangan abadi bagi umat percaya untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mengenang titik-titik di mana Allah nyata menyertai. Di tengah pergumulan, kegagalan, dan penindasan selama dua puluh tahun, bangsa Israel akhirnya kembali kepada TUHAN dengan pertobatan yang tulus. Mereka melepaskan Baal dan Asytoret—simbol penyembahan berhala yang selama ini menjauhkan mereka dari kasih setia Allah. Di bawah kepemimpinan rohani Samuel, umat berkumpul di Mizpa, menangisi dosa mereka, berpuasa, dan mencurahkan air sebagai lambang penyesalan yang mendalam. Respons mereka adalah model pertobatan komunal yang autentik: bukan hanya penyesalan lisan, tetapi tindakan nyata menjauh dari dosa dan kembali kepada penyembahan sejati.
Allah tidak tinggal diam. Ketika orang Filistin datang menyerang, justru pada saat korban bakaran dipersembahkan, TUHAN menyatakan kuasa-Nya melalui guntur yang mengacaukan barisan musuh. Kemenangan Israel bukan hasil strategi perang, melainkan campur tangan ilahi yang menegaskan bahwa penyelamatan berasal dari TUHAN semata. Di puncak kemenangan itu, Samuel tidak mendirikan patung dirinya sendiri, melainkan sebuah batu—sederhana namun bermakna mendalam—dan menamainya *Eben-Haezer*, yang berarti “Sampai di sini TUHAN menolong kita.” Batu itu bukan monumen bagi kehebatan manusia, tetapi tugu syukur yang mengarahkan semua hormat kepada Allah.
Bagi umat Kristen masa kini, Eben-Haezer menjadi metafora spiritual yang kuat. Dalam perjalanan iman, seringkali kita mudah lupa akan kesetiaan Allah di masa lalu, terutama ketika menghadapi tantangan baru. Namun, seperti Samuel, kita juga dipanggil untuk “mendirikan batu-batu peringatan”—entah dalam bentuk jurnal syukur, kesaksian pribadi, atau praktik liturgis—yang mengingatkan kita dan generasi mendatang bahwa Allah tetap setia. Batu itu bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dikunjungi kembali saat iman goyah.
Lebih dari itu, Eben-Haezer mengajarkan kerendahan hati. Kemenangan bukan milik kita, tetapi karunia Allah. Dalam dunia yang sering merayakan individualisme dan pencapaian diri, pengakuan bahwa “sampai di sini TUHAN menolong kita” adalah bentuk iman yang radikal sekaligus membebaskan. Itu adalah pengakuan bahwa setiap napas, setiap langkah, dan setiap kemenangan kecil dalam hidup ini adalah hasil tangan kasih Allah yang tak pernah gagal.
Tuhan Yesus terima kasih 2025, melangkah maju menapak 2026 dalam penyertaan-Mu.
--***--