Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan
Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan, Bukan Penjelasan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pernahkah hidup tiba-tiba runtuh? Saat mimpi hancur, hubungan retak, kesehatan memburuk, atau keadilan terasa jauh—apa yang pertama kali kita cari? Biasanya, kita mencari jawaban: “Mengapa ini terjadi padaku?” Kita ingin penjelasan. Tapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: penjelasan tidak pernah menghibur. Bahkan jika kita tahu “alasannya,” rasa sakit tetap ada. Penjelasan tidak menghapus air mata, tidak menyembuhkan luka hati, dan tidak mencegah kepahitan.
Roma 8:28 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan maksud-Nya.” Ayat ini bukan janji bahwa semua hal adalah baik, tetapi bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan. Ia tidak meninggalkan kita di tengah kekacauan. Ia hadir—dan itulah yang paling kita butuhkan.
Kita sering berpikir seperti semut yang mencoba memahami internet: otak kita terlalu kecil untuk menangkap seluruh rencana ilahi. Banyak “mengapa” hanya akan terjawab ketika kita berdiri di hadirat-Nya di surga. Sampai saat itu, yang kita perlukan bukan jawaban, melainkan kehadiran-Nya. Dalam kesedihan, dalam kebingungan, dalam pergumulan—Tuhan tidak memberi teori, tapi pelukan. Ia tidak menjelaskan badai, tapi Ia naik ke perahu dan duduk bersama kita di tengahnya.
Allah adalah Tuhan yang suka mengubah salib menjadi kebangkitan. Ia mengambil potongan-potongan hidup yang remuk dan membentuknya menjadi berkat—bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk orang lain. Penderitaan yang kita alami bisa menjadi jalan bagi kasih-Nya menyentuh dunia, asal kita mau menyerahkannya.
Maka hari ini, jangan habiskan energi mencari “mengapa.” Serahkan saja segalanya kepada-Nya. Katakan pada Tuhan: “Aku tidak mengerti, tapi aku percaya Engkau dekat.” Mintalah agar Ia memperbarui kesadaran akan kehadiran-Nya. Biarkan Dia memegang hati yang rapuh ini sampai semuanya dipulihkan—di waktu-Nya, dengan cara-Nya.
Ingatlah: syukur bukan lahir dari pemahaman, tapi dari keyakinan bahwa Allah tetap baik, bahkan di tengah kegelapan. Dan jika Ia sanggup menggunakan salib—alat eksekusi—menjadi lambang pengharapan bagi seluruh dunia, maka Ia juga sanggup menggunakan luka kita untuk membawa terang.
Marilah kita berhenti menuntut penjelasan, dan mulai merindukan kehadiran-Nya. Sebab di sanalah damai sejahtera sejati ditemukan.
--*--