Dua Jenis Keraguan
... Membangun Vs. Menghancurkan Iman ...
Di awal tahun 2026, dunia terasa semakin tidak menentu. Ketidakstabilan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan arus informasi digital yang membingungkan membuat banyak orang—termasuk orang percaya—mengalami pergumulan batin yang dalam. Di tengah semua ini, keraguan bukanlah tanda kelemahan iman, melainkan bagian alami dari perjalanan rohani. Namun, tidak semua keraguan sama. Alkitab mengungkap dua wajah keraguan yang sangat berbeda—satu membawa kita lebih dekat pada Tuhan, yang lain justru menyeret kita menjauh.
Keraguan Tomas: Jujur, Bertanya, dan Mencari Kebenaran
Ketika para murid berkata kepada Tomas, “Kami telah melihat Tuhan!”, responsnya tegas: “Kecuali aku melihat bekas paku di tangan-Nya dan menaruh tanganku ke dalam lambung-Nya, aku tidak akan percaya” (Yohanes 20:25). Sikap ini sering disebut “keraguan Thomas”, bahkan dijadikan label negatif. Tapi sebenarnya, Tomas bukan pemberontak—ia seorang pencari kebenaran. Ia tidak menolak kebangkitan; ia hanya butuh dasar yang nyata untuk mempercayainya.
Dan bagaimana Tuhan merespons? Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan undangan penuh kasih: “Taruhlah jarimu di sini…” (Yohanes 20:27). Dari situ, Tomas justru mengucapkan pengakuan iman paling radikal dalam seluruh Injil Yohanes: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).
Keraguan seperti ini—yang lahir dari kerinduan akan kebenaran, bukan penolakan terhadap Tuhan—adalah keraguan yang sehat. Ia membuka pintu bagi iman yang lebih matang, lebih pribadi, dan lebih berakar.
Keraguan Petrus: Takut, Tenggelam, dan Kehilangan Fokus
Berbeda dengan Tomas, Petrus justru sudah percaya—bahkan berani melangkah keluar dari perahu untuk berjalan di atas air (Matius 14:28–29). Tapi begitu ia melihat angin ribut, kakinya gemetar dan ia mulai tenggelam. Keraguannya bukan soal siapa Yesus, melainkan ketakutan yang mengalihkan fokus dari Tuhan ke masalah.
Ini adalah wajah lain dari keraguan: keraguan yang destruktif. Ia muncul bukan saat kita belum percaya, tapi justru setelah kita mulai melangkah dalam iman. Dan ia selalu datang dengan satu ciri khas: fokus yang bergeser dari Allah ke ancaman di sekitar kita.
Banyak dari kita mungkin pernah mengalami keduanya. Ada saat kita bertanya, “Tuhan, aku percaya Engkau baik—tapi bagaimana caranya?” Itu keraguan Tomas. Tapi ada juga saat kita berbisik dalam hati, “Aku sudah berdoa berkali-kali, tapi sepertinya Tuhan tidak peduli.” Itu keraguan Petrus—dan di sanalah iman mulai tenggelam.
Iman yang Tak Tenggelam: Fokus, Bukan Sempurna
Yesus tidak menghukum Tomas karena bertanya. Ia juga tidak meninggalkan Petrus saat ia tenggelam. Justru, Ia menarik tangan Petrus dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:31).
Markus 11:23–24 sering dikutip sebagai ayat tentang “iman yang memindahkan gunung”, tapi intinya bukan pada kekuatan doa kita, melainkan pada keteguhan hati yang tidak terbelah. “Tidak bimbang hatinya” bukan berarti tanpa pertanyaan—melainkan hati yang tetap memegang janji Tuhan meski situasi berkata sebaliknya.
Iman sejati bukanlah ketiadaan keraguan, melainkan keberanian untuk terus memandang kepada Yesus—meski badai mengamuk, meski jawaban belum datang, meski dunia terasa runtuh.
Gereja: Komunitas yang Aman untuk Meragukan dengan Jujur
Di tengah kekacauan zaman ini, gereja dipanggil bukan sebagai benteng yang menolak pertanyaan, melainkan sebagai rumah yang aman untuk meragukan dengan jujur. Seperti Yesus yang mengundang Tomas, kita pun harus menciptakan ruang di mana jemaat—terutama generasi muda—bisa bertanya tanpa takut dihakimi.
Karena iman yang bertahan bukan yang tak pernah goyah, tapi yang ditempa dalam dialog, diselamatkan dalam komunitas, dan dipulihkan oleh kasih Tuhan yang tak pernah melepaskan.
Seperti janji-Nya:
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu.” (Yesaya 41:10)
Ia tidak pernah melepaskan tangan Petrus. Dan Ia juga tidak akan melepaskan kita.
---*---