Greeter sebagai Ekspresi Keramahtamahan Kristiani


Dalam arus budaya kontemporer yang sering kali dipenuhi oleh sikap individualistik, transaksional, dan tertutup, pelayanan sebagai greeter—penyambut jemaat di gereja—bukanlah sekadar tugas protokoler atau tata tertib liturgis. Ia adalah bentuk nyata dari keramahtamahan ilahi yang dinyatakan dalam perjumpaan manusia. Di balik senyum, jabat tangan, dan sapaan hangat seorang greeter, tersirat sebuah teologi yang mendalam: bahwa gereja adalah tempat di mana setiap orang diterima, bukan karena status atau penampilan, melainkan karena kasih karunia Allah yang telah membuka jalan bagi semua melalui salib Kristus. Yesus sendiri, dalam kematian-Nya, menjadi “pintu” (Yohanes 10:9) yang mengundang semua orang masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa. Dengan demikian, greeter bukan hanya membuka pintu gedung, tetapi mencerminkan pintu itu sendiri—yaitu Kristus.


Pelayanan ini menuntut lebih dari keramahan sosial. Ia memerlukan kedewasaan rohani, kerendahan hati, dan kesediaan untuk melihat setiap pengunjung—baik yang rutin maupun yang pertama kali datang—sebagai pribadi yang berharga di mata Allah. Greeter dipanggil untuk menjadi pendengar aktif, pengingat nama, dan pembawa suasana yang aman dan penuh kasih. Ini terutama penting dalam konteks pastoral, di mana banyak orang datang dengan luka, keraguan, atau rasa kesepian. Sapaan pertama yang tulus sering kali menjadi langkah pertama dalam proses penyembuhan rohani dan pertemuan dengan komunitas iman.


Peran ini juga memiliki dimensi pembinaan kepemimpinan. Gereja perlu mendorong keterlibatan pria dalam pelayanan penyambutan, tidak hanya sebagai bentuk partisipasi, tetapi sebagai sarana melatih kerendahan hati, empati, dan kepekaan pastoral—kualitas esensial bagi calon pemimpin rohani. Gembala dan pemimpin jemaat, sebagai teladan utama, hendaknya tidak hanya mengutus greeter, tetapi turut hadir di antara mereka, memperlihatkan bahwa keramahtamahan adalah nilai inti, bukan tugas tambahan.


Keramahtamahan Injil yang diwujudkan melalui pelayanan greeter bukan hanya memperindah ibadah, tetapi membangun fondasi bagi persekutuan yang inklusif, transformatif, dan setia pada misi Allah. Dalam dunia yang semakin terpecah, gereja dipanggil untuk menjadi oase keramahan—dan di sanalah greeter memainkan peran suci yang tak ternilai. 

__***__

Popular posts from this blog

Penjelasan Teologis, Refleksi Pastoral, dan Penerapan Praktis Matius 1:21-24

Mengkaji Konsep Hibriditas dalam Konteks Globalisasi dan Budaya: Suatu Perspektif Teoretis dan Empiris

Menjelajahi Tanah Suci di Ruang Diplomatik yang Kosong: Ziarah Sub-Negara Warga Indonesia ke Israel