Bertemu Yesus di Kolam Siloam
Bertemu Yesus di Kolam Siloam
Yohanes 9:1–7 (dengan gema dari Yesaya 8:6 dan Yohanes 7:37–38)
Pendahuluan: Sebuah Tempat yang Bernama “Diutus”
Di tengah kota Yerusalem yang kuno, tersembunyi di antara tembok batu dan pohon zaitun, ada sebuah kolam kecil bernama Siloam—yang artinya “diutus”. Bukan tempat megah seperti Bait Suci, bukan pula pusat keramaian. Namun di sanalah Yesus melakukan suatu mujizat yang mengubah segalanya—bukan hanya bagi seorang buta, tetapi bagi setiap orang yang rindu melihat kebenaran.
Saudara-saudari, hari ini banyak dari kita berjalan dengan mata terbuka—namun tetap buta. Buta terhadap dosa pribadi. Buta terhadap ketidakadilan sistemik. Buta terhadap kebiasaan kita menutup mata terhadap korupsi, ketimpangan, atau bahkan kebutuhan kita sendiri akan anugerah Tuhan. Seperti para pemimpin agama dalam Yohanes 9, kita mungkin mengaku “melihat”—padahal Sang Terang sedang berdiri di hadapan kita.
Mujizat: Lumpur, Perintah, dan Pemulihan
Yesus melihat seorang yang buta sejak lahir. Murid-murid-Nya bertanya, “Siapa yang berdosa?”—mencari siapa yang patut disalahkan. Tetapi Yesus mengalihkan pandangan mereka: “Bukan karena dosanya, bukan juga karena dosa orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan Allah nyata di dalam dia” (Yohanes 9:3). Bukan hukuman—melainkan kesempatan bagi kemuliaan Allah.
Lalu Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan: Ia membuat lumpur dari ludah-Nya, mengoleskannya pada mata si buta, dan berkata, “Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam” (ay. 7). Perhatikan:
- Ia menyentuh yang dianggap najis. Di budaya yang menjauhi penyandang disabilitas, Yesus justru mendekat.
- Ia memberi perintah yang menuntut ketaatan. Si buta tidak berdebat. Ia pergi.
- Ia mengutusnya ke tempat bernama “diutus.” Nama itu sendiri menunjuk pada Yesus—Dia yang diutus Bapa (Yohanes 3:17).
Ketika si buta membasuh matanya, ia tidak hanya melihat dunia—ia mulai mengenal Sang Terang. Dari “saya buta” menjadi “saya percaya!” (Yohanes 9:38).
Tantangan: Siapa Sebenarnya yang Buta?
Para pemimpin agama menginterogasi si buta yang sembuh. Mereka bisa menghafal Kitab Suci—tapi gagal mengenali Mesias. Mereka taat pada ritual—tapi menolak belas kasihan. Mata mereka berfungsi sempurna… namun hati mereka gelap.
Saudara, kebutaan rohani bukan soal ketidaktahuan—melainkan penolakan. Itu terjadi ketika kita:
- Membela sistem korup karena menguntungkan diri sendiri.
- Mengabaikan jeritan kaum lemah karena merepotkan.
- Mengklaim kebenaran moral sambil kehilangan belas kasih.
Yesus datang bukan hanya untuk membuka mata—tapi untuk menyingkap kegelapan yang selama ini kita biarkan tinggal.
Undangan: Datanglah kepada Air Hidup
Kolam Siloam dialiri dari Mata Air Gihon—air yang sama yang digunakan dalam Hari Raya Pondok Daun. Pada hari terakhir pesta itu, Yesus berdiri dan berseru:
> “Barangsiapa haus, hendaklah datang kepada-Ku dan minum!” (Yohanes 7:37)
Ia adalah Siloam yang sejati—Dia yang diutus Bapa, yang menawarkan air hidup yang membersihkan, memulihkan, dan membuka mata. Bukan hanya bagi individu—tetapi bagi gereja, masyarakat, bahkan bangsa kita.
Di tanah kita—dari Sumatera Utara hingga Aceh—kita menghadapi banjir korupsi, kekeringan integritas, dan bayang-bayang ketakutan. Tetapi Kristus, Sang Utusan, memanggil kita untuk membasuh diri dalam kebenaran-Nya, melihat dengan mata-Nya, dan berjalan dalam terang-Nya.
Penutup: Panggilan untuk Pergi
Maukah saudara pergi ke Siloam hari ini?
Bukan kolam batu—melainkan kaki salib, tempat Sang Utusan menanti.
Bawalah kebutaanmu. Bawalah pertanyaanmu. Bawalah malumu.
Dan biarkan Dia berkata: “Pergilah—dan lihatlah.”
Sebab Dia yang diutus telah datang, supaya kita yang buta boleh melihat, yang sesat boleh bertobat, dan yang hancur boleh bersaksi: “Dulu aku buta—kini aku melihat!”