Keraguan Bukan Musuh



Keraguan Bukan Musuh: Memahami Keraguan dari Perspektif Psikologis dan Iman Kristen 

-*- 

Dalam kehidupan iman, keraguan sering kali dipandang sebagai tanda kelemahan rohani—seolah-olah orang percaya yang “benar” tidak pernah goyah. Namun, tinjauan psikologis modern menunjukkan bahwa keraguan bukanlah cacat, melainkan bagian alami dan bahkan penting dari proses berpikir, merasakan, dan bertumbuh sebagai manusia ciptaan Tuhan.

 

Secara kognitif, keraguan berfungsi seperti sinyal internal yang memberi tahu kita: “Ada sesuatu yang belum jelas.” Ini mendorong kita untuk mencari kebenaran lebih dalam, menimbang bukti, dan merefleksikan keyakinan kita—suatu proses yang sejalan dengan nasihat Alkitab: “Segala sesuatu harus diuji, dan yang baik harus diikuti” (1 Tesalonika 5:21). Dalam konteks ini, keraguan justru bisa menjadi pintu menuju iman yang lebih matang, bukan lawannya.

 

Namun, secara emosional, keraguan memang sering disertai kecemasan. Ketika masa depan terasa tidak pasti—dalam pelayanan, keluarga, atau panggilan hidup—kita mudah merasa gelisah. Psikologi menyebut hal ini sebagai “intoleransi terhadap ketidakpastian.” Tapi di sinilah iman Kristen menawarkan dasar yang unik: kita tidak dituntut untuk memiliki semua jawaban, melainkan untuk percaya kepada Allah yang “dari permulaan Kuberitahukan hal-hal yang kemudian… Keputusan-Ku akan terlaksana, kehendak-Ku pasti Kulakukan!” (Yesaya 46:10).

 

Alkitab sendiri penuh dengan tokoh yang mengalami keraguan—dan justru diterima oleh Tuhan. Tomas, salah satu murid Yesus, tidak percaya bahwa Gurunya telah bangkit sampai ia melihat dan menyentuh luka-lukanya. Alih-alih menegur keras, Yesus datang kepadanya dan berkata dengan penuh kasih: “Lihatlah tangan-Ku, dan taruhlah jarimu di sini. Ulurkan tanganmu dan taruhlah di lambung-Ku. Jangan ragu-ragu lagi, tetapi percayalah!” (Yohanes 20:27). Demikian pula Petrus: ketika ia berjalan di atas air menuju Yesus, imannya goyah karena melihat angin yang kencang, lalu mulai tenggelam. Dalam ketakutannya, ia berseru, “Tuhan, tolonglah aku!”—dan seketika Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menopangnya (Matius 14:30–31). Dalam kedua kisah ini, keraguan tidak membuat mereka dibuang, melainkan diundang masuk lebih dalam ke dalam kasih dan kuasa Kristus.

 

Secara perilaku, keraguan bisa membuat kita menunda keputusan atau menghindari tanggung jawab. Dalam pelayanan, ini mungkin muncul sebagai keraguan akan kemampuan diri atau kehendak Tuhan. Namun, justru dalam ruang keraguan itulah komunitas gereja dipanggil untuk saling menopang. Kita tidak perlu berjalan sendirian dalam ketidakpastian. Seperti Daud yang jujur dalam keraguannya di Mazmur (“Mengapa Engkau meninggalkan aku?”), kita diajak untuk membawa seluruh pergumulan—termasuk keraguan—ke hadirat Tuhan dalam doa yang tulus.

 

Dari perspektif teologis, keraguan yang dihadapi dengan rendah hati justru mencerminkan kerendahan hati rohani. Iman yang sejati bukan iman yang buta, melainkan iman yang berani bertanya, mencari, dan tetap percaya meski belum sepenuhnya mengerti. Seperti Abraham, yang “karena beriman, maka Abraham mentaati Allah ketika Allah memanggilnya… Lalu Abraham berangkat dengan tidak tahu ke mana akan pergi” (Ibrani 11:8).

 

Maka, bagi jemaat Kristus, mari kita menciptakan budaya rohani yang aman—tempat di mana keraguan boleh diungkapkan tanpa rasa malu, didiskusikan dengan kasih, dan dibawa bersama dalam persekutuan. Sebab dalam keraguan yang dihadapi dengan iman, justru kita sering kali bertemu Allah yang nyata, penuh kasih, dan setia.

--*--

Popular posts from this blog

Penjelasan Teologis, Refleksi Pastoral, dan Penerapan Praktis Matius 1:21-24

Mengkaji Konsep Hibriditas dalam Konteks Globalisasi dan Budaya: Suatu Perspektif Teoretis dan Empiris

Menjelajahi Tanah Suci di Ruang Diplomatik yang Kosong: Ziarah Sub-Negara Warga Indonesia ke Israel