Hidup Dalam Kebebasan Yang Diberikan Kristus
Hidup Dalam Kebebasan Yang Diberikan Kristus
Ketika Anda menyerahkan hidup Anda kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Anda tidak hanya diselamatkan dari hukuman dosa—Anda dimasukkan ke dalam kehidupan yang benar-benar merdeka. Ini bukan kebebasan sembarangan yang mengarah pada kebejatan, tetapi kebebasan yang membebaskan Anda untuk hidup sesuai rancangan ilahi: suci, penuh damai, dan penuh kuasa. Alkitab menyatakan bahwa dalam Kristus, kita menerima tiga kebebasan besar yang saling terkait dan mentransformasi seluruh keberadaan kita.
1. Hati Nurani yang Bersih: Kebebasan dari Beban Rasa Bersalah
Yesus berkata, “Jika Sang Anak memerdekakan kamu, maka kamu akan benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36, Shellabear 2011). Kebebasan yang paling dalam bukanlah kebebasan politik atau ekonomi, melainkan kebebasan rohani—kebebasan dari belenggu dosa, penyesalan, dan rasa bersalah yang menggerogoti jiwa. Banyak orang hidup seolah membawa “kantong sampah” penuh dosa di pundak mereka—berat, bau, dan melelahkan. Mereka terjebak dalam lingkaran penyesalan: “Seandainya dulu aku tidak…” atau “Aku tidak layak…” Namun Injil memberitakan kabar baik: “Semua itu terjadi karena Yesus, Anak-Mu itu, sudah membayar semua utang dosa kami sehingga kami menerima pengampunan-Mu.” (Kolose 1:14, TSI 2014). Melalui kematian-Nya di kayu salib, Yesus tidak hanya menutupi dosa-dosa kita—Dia menghapusnya sepenuhnya. Ia tidak datang untuk menjadikan kita lebih religius, tetapi untuk menjadikan kita bebas. Hati nurani yang bersih bukan berarti Anda tidak pernah berdosa lagi, tetapi bahwa setiap dosa—yang lalu, yang kini, bahkan yang akan datang—telah ditebus oleh darah-Nya yang mahal.
Rasa bersalah yang berkelanjutan setelah Anda mengakui dosa dan menerima pengampunan bukanlah tanda kerendahan hati, melainkan penolakan terhadap kelengkapan karya Kristus. Seolah-olah kematian-Nya tidak cukup, sehingga Anda harus “menebusnya” sendiri. Padahal, Allah ingin Anda bangun setiap pagi dengan keyakinan ini: “Semuanya sudah selesai. Aku diampuni. Aku layak—bukan karena aku, tetapi karena Kristus.”
Inilah kebebasan yang memberi tenaga rohani: hati nurani yang ringan, pikiran yang damai, dan jiwa yang siap melayani.
2. Akses Langsung kepada Allah: Kebebasan untuk Menjadi Anak yang Berbicara dengan Bapa
Melalui iman dalam Kristus, Anda tidak hanya diampuni—Anda diadopsi. Anda bukan lagi “orang luar” yang harus antri atau memohon izin, tetapi anak yang memiliki hak waris dan keintiman dengan Bapa. Firman Tuhan menegaskan: “Saudara-saudari, ingatlah bahwa kita yang percaya penuh kepada Kristus sudah bersatu dengan Dia. Maka kita merasa bebas dan mempunyai keberanian untuk berdoa kepada Allah.” (Efesus 3:12, TSI 2014). Ini adalah “tiket all-access” surgawi. Anda boleh datang kepada Allah kapan saja—pada pukul 3 pagi, di tengah kemacetan, saat rapat penting, atau ketika air mata mengalir. Tidak perlu doa yang panjang, kata-kata indah, atau postur tubuh tertentu. Doa bukan ritual—doa adalah napas rohani, percakapan hidup dengan Bapa yang mengasihi Anda.
Sayangnya, banyak orang masih memandang doa sebagai tugas suci yang harus dilakukan dengan sempurna, atau mereka merasa doa mereka “kurang layak” dibanding doa pemimpin rohani. Ini adalah ilusi. Di dalam Kristus, setiap orang percaya—dari anak kecil hingga pendeta—memiliki akses yang sama kepada takhta kasih karunia. Allah bukan hakim yang menunggu kesalahan Anda, tetapi Bapa yang rindu mendengar suara Anda. Ibrani 4:16 mengajak kita: “Jadi, hendaklah kita menghadap takhta Allah tanpa rasa takut, karena Dia menerima kita dengan kebaikan hati-Nya. Pada saat kita memerlukan pertolongan, Allah akan berbelas kasih dan menunjukkan kebaikan hati-Nya kepada kita.” Inilah kebebasan: Anda tidak perlu takut, malu, atau ragu. Bicaralah. Menangislah. Bersyukurlah. Pertanyakanlah. Teruslah berbicara—karena Dia terus mendengar.
3. Kuasa untuk Melakukan yang Benar: Kebebasan dari Perbudakan terhadap Dosa
Kebebasan dalam Kristus tidak berhenti pada pengampunan dan akses—ia juga mencakup kuasa untuk hidup benar. Yesus tidak hanya menyelamatkan Anda dari dosa, tetapi juga untuk kebenaran. Sebelum percaya kepada Kristus, kita semua adalah budak dosa "Tetapi bersyukurlah kepada Allah! Dahulu kamu diperhamba oleh dosa, tetapi kini kamu telah taat sepenuh hati akan bentuk ajaran yang telah diamanahkan kepadamu." (Roma 6:17, AVB 2015). Kita ingin berbuat baik, tetapi sering kali gagal—bukan karena kurang usaha, tetapi karena tidak memiliki kuasa batin. Namun, ketika Roh Kudus tinggal dalam kita, Ia memberikan kekuatan baru: “Karena Allah sendirilah yang bekerja di dalam dirimu sehingga kamu berkehendak dan bertindak sesuai dengan maksud baik-Nya.” (Filipi 2:13, Shellabear 2011). Inilah kebebasan ketiga: Anda tidak lagi dikuasai oleh dosa. Anda masih bisa tergoda, tetapi Anda tidak lagi terikat. Anda masih bisa jatuh, tetapi Anda tidak lagi terperangkap. Anda memiliki kuasa untuk berkata “tidak” kepada keinginan daging dan “ya” kepada kehendak Allah—bukan karena disiplin diri, tetapi karena Kristus hidup di dalam Anda. "Sekarang secara rohani saya sudah disalibkan bersama Kristus. Itu berarti bukan lagi saya yang mengatur hidup saya, melainkan Kristus yang hidup dalam diri saya. Seluruh hidup yang saya jalani dalam tubuh duniawi ini hanyalah berdasarkan keyakinan penuh kepada Anak Allah, yang begitu mengasihi saya sampai rela menyerahkan diri-Nya untuk menebus saya." (Galatia 2:20, TSI 2014). Kuasa ini tidak membuat Anda sempurna dalam sekejap, tetapi ia memulai proses pembaruan yang pasti. Setiap kali Anda memilih kebenaran—dalam pikiran, perkataan, atau perbuatan—Anda sedang melatih kebebasan sejati: kebebasan untuk menjadi seperti Kristus.
Dan inilah yang membedakan iman Kristen dari moralisme agama: agama berkata, “Lakukanlah yang benar agar layak.” Injil berkata, “Karena engkau layak di dalam Kristus, maka lakukanlah yang benar dengan sukacita.”
Hidup dalam Kebebasan Penuh
Ketiga kebebasan ini—hati nurani yang bersih, akses langsung kepada Allah, dan kuasa untuk hidup benar—bukan tiga hal terpisah, melainkan tiga sisi dari satu realitas: hidup di dalam Kristus. Ketika Anda hidup dalam kebebasan ini, Anda tidak hanya mengalami damai sejahtera pribadi—Anda menjadi saksi hidup bagi dunia yang terpenjara. Orang lain akan melihat:
- Bagaimana Anda berdoa dengan keintiman tanpa formalitas kosong,
- Dan bagaimana Anda memilih kebenaran bukan karena takut, tetapi karena kasih.
Datanglah kepada Bapa dengan hati yang ringan.
Dan biarkan Roh-Nya memampukanmu untuk hidup dalam kekudusan yang penuh sukacita.
Sebab di dalam Kristus, kamu benar-benar—dan selamanya—merdeka.
-*-