Posts

Uang dan Politik dalam Perspektif Alkitab: Kepemimpinan sebagai Amanat Suci

Image
Alkitab tidak mengutuk kekayaan sebagai entitas netral, melainkan mengecam keterikatan hati pada uang dan penggunaannya untuk menindas sesama. Inti ajarannya terletak pada penempatan otoritas ilahi sebagai fondasi segala bentuk kepemilikan dan pemerintahan. Segala sesuatu—harta, jabatan, pengaruh politik—bukan milik mutlak manusia, melainkan amanat suci (stewardship) yang harus dikelola dengan integritas dan akuntabilitas kepada Tuhan. Prinsip ini menjadi dasar etika politik yang secara tegas menolak korupsi, nepotisme, dan eksploitasi sistem demi kepentingan pribadi. Kisah-kisah Alkitab memberikan peringatan nyata tentang bahaya ketika uang dan politik menyatu tanpa batas moral. Kasus Raja Ahab yang merebut kebun Nabot melalui persekongkolan hukum (1 Raja-raja 21) adalah potret klasik penyalahgunaan kekuasaan negara untuk keuntungan pribadi. Di sini, hukum, pengadilan, dan kekuasaan eksekutif digunakan bukan untuk menegakkan keadilan, tetapi untuk melegalkan ketidakadilan. Demikian pu...

Yesus yang Merendahkan Diri: Jejak Inkarnasi, Pelayanan, dan Penebusan

Image
Pernyataan bahwa “Yesus merendahkan diri-Nya dari Tuhan menjadi manusia, menjadi hamba, menjadi manusia yang menanggung dosa hingga mati di kayu salib” bukan sekadar gambaran puitis, melainkan ringkasan teologis yang mendalam tentang seluruh misi penyelamatan Kristus. Proses perendahan ini—dikenal dalam tradisi Kristen sebagai kenosis —bukanlah kehilangan esensi ilahi, melainkan tindakan sukarela Sang Anak Allah untuk mengosongkan diri dari kemuliaan surgawi dan memasuki realitas manusia yang terbatas, rapuh, dan berdosa. Ini adalah fondasi doktrinal iman Kristen, yang secara jelas dirumuskan dalam Konsili-konsili awal Gereja, terutama Chalcedon (451 M), yang menegaskan bahwa Yesus adalah satu pribadi dengan dua alam: sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Perendahan dimulai pada titik inkarnasi. Di sini, Yesus tidak melepaskan keilahian-Nya, tetapi justru mencurahkan esensi ilahi ke dalam tubuh manusia. Seperti ditegaskan oleh Athanasius, inkarnasi bukan reaksi darurat terhadap dosa...

Bijak di Dunia Digital: Melawan Ujaran Kebencian dengan Hikmat dan Kasih

Image
Salam damai untuk kita semua, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Di tengah hiruk-pikuk media sosial—tempat kita berbagi kabar, menyuarakan pendapat, bahkan mencari teman—ada bayangan gelap yang terus mengintai: ujaran kebencian. Mungkin kita pernah melihat komentar pedas yang menyerang agama seseorang, ejekan terhadap latar belakang etnis, atau narasi provokatif yang memecah belah kelompok. Itu bukan sekadar “komentar kasar”. Itu adalah bentuk nyata dari hate speech—ujaran kebencian—yang kini menjadi tantangan serius bagi persatuan dan kemanusiaan kita di Indonesia. Sebagai pengguna media sosial, kita perlu tahu: ini bukan hanya soal etika, tapi juga hukum. Di Indonesia, ujaran kebencian diatur dalam Undang-Undang ITE, khususnya Pasal 28 ayat (2), yang melarang penyebaran informasi yang menimbulkan permusuhan berdasarkan Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA). Namun, undang-undang ini sering kali ambigu. Kata-kata seperti “permusuhan” atau “kebencian” bisa ditafsirkan luas—terka...

Mendidik Bukan Hanya Mengajar: Membentuk Manusia Utuh dalam Terang Injil

Image
Di tengah tekanan untuk mengejar nilai, kelulusan, dan reputasi institusi, kita mudah lupa: pendidikan Kristen bukan proyek akademis, melainkan panggilan kerohanian. Ia bukan sekadar menyisipkan ayat Alkitab di awal pelajaran, tetapi menempatkan Kristus sebagai pusat seluruh proses belajar—mengintegrasikan iman, ilmu, dan karakter dalam satu gerakan utuh.   Pendidikan berpedoman Injil dibangun di atas tiga fondasi:    Pertama , kurikulum yang terintegrasi—di mana setiap mata pelajaran, dari matematika hingga seni, diajak untuk merefleksikan kebenaran, keindahan, dan keadilan Allah.    Kedua , metodologi yang transformatif—bukan hanya mentransfer informasi, tetapi membentuk cara berpikir dan merespons dunia. Di SD, kita gunakan narasi Alkitab untuk membangun imajinasi moral; di SMP-SMA, kita latih siswa berpikir kritis melalui lensa Injil; di perguruan tinggi, kita dampingi mereka mengejar kebijaksanaan, bukan sekadar gelar.    Ket...
Image
Mengasihi Tuhan dengan Hati, Jiwa, Akal, dan Tindakan Mengasihi Tuhan bukan hanya perasaan hangat di hari Minggu atau ritual rutin yang kita ulang setiap pekan. Itu adalah komitmen total yang melibatkan seluruh diri kita: hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Markus 12:30). Yesus menempatkan perintah ini sebagai yang terutama—bukan sebagai beban, tetapi sebagai undangan untuk hidup utuh dalam relasi dengan Allah. Markus 12:30 (TB) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu." Dalam komunitas yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kasih itu tidak berhenti pada doa pribadi. Ia diwujudkan dalam disiplin rohani bersama—dalam kelompok kecil yang saling meneguhkan, dalam pembacaan firman yang mendalam, bahkan dalam jalan kaki yang tenang sambil merenungkan kebaikan-Nya. Kasih kepada Tuhan juga melibatkan akal budi: kita belajar, merenungkan, dan memahami kebenaran-Nya.  Seperti kata Roma 12:2,...

Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan

Image
Kita Membutuhkan Kehadiran Tuhan, Bukan Penjelasan Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Pernahkah hidup tiba-tiba runtuh? Saat mimpi hancur, hubungan retak, kesehatan memburuk, atau keadilan terasa jauh—apa yang pertama kali kita cari? Biasanya, kita mencari jawaban: “Mengapa ini terjadi padaku?” Kita ingin penjelasan. Tapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: penjelasan tidak pernah menghibur. Bahkan jika kita tahu “alasannya,” rasa sakit tetap ada. Penjelasan tidak menghapus air mata, tidak menyembuhkan luka hati, dan tidak mencegah kepahitan. Roma 8:28 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan maksud-Nya.” Ayat ini bukan janji bahwa semua hal adalah baik, tetapi bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan. Ia tidak meninggalkan kita di tengah kekacauan. Ia hadir—dan itulah yang paling kita butuhkan. Kita sering berpikir sep...

Bertemu Yesus di Kolam Siloam

Bertemu Yesus di Kolam Siloam Yohanes 9:1–7 (dengan gema dari Yesaya 8:6 dan Yohanes 7:37–38)   Pendahuluan: Sebuah Tempat yang Bernama “Diutus” Di tengah kota Yerusalem yang kuno, tersembunyi di antara tembok batu dan pohon zaitun, ada sebuah kolam kecil bernama Siloam—yang artinya “diutus”. Bukan tempat megah seperti Bait Suci, bukan pula pusat keramaian. Namun di sanalah Yesus melakukan suatu mujizat yang mengubah segalanya—bukan hanya bagi seorang buta, tetapi bagi setiap orang yang rindu melihat kebenaran. Saudara-saudari, hari ini banyak dari kita berjalan dengan mata terbuka—namun tetap buta. Buta terhadap dosa pribadi. Buta terhadap ketidakadilan sistemik. Buta terhadap kebiasaan kita menutup mata terhadap korupsi, ketimpangan, atau bahkan kebutuhan kita sendiri akan anugerah Tuhan. Seperti para pemimpin agama dalam Yohanes 9, kita mungkin mengaku “melihat”—padahal Sang Terang sedang berdiri di hadapan kita. Mujizat: Lumpur, Perintah, dan Pemulihan Yesus melihat seoran...