Posts

Mengenang Pertolongan Ilahi dalam Perjalanan Iman

“Sampai di Sini TUHAN Menolong Kita”: Mengenang Pertolongan Ilahi dalam Perjalanan Iman Kisah dalam 1 Samuel 7:1–17 bukan sekadar catatan sejarah kuno, melainkan undangan abadi bagi umat percaya untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mengenang titik-titik di mana Allah nyata menyertai. Di tengah pergumulan, kegagalan, dan penindasan selama dua puluh tahun, bangsa Israel akhirnya kembali kepada TUHAN dengan pertobatan yang tulus. Mereka melepaskan Baal dan Asytoret—simbol penyembahan berhala yang selama ini menjauhkan mereka dari kasih setia Allah. Di bawah kepemimpinan rohani Samuel, umat berkumpul di Mizpa, menangisi dosa mereka, berpuasa, dan mencurahkan air sebagai lambang penyesalan yang mendalam. Respons mereka adalah model pertobatan komunal yang autentik: bukan hanya penyesalan lisan, tetapi tindakan nyata menjauh dari dosa dan kembali kepada penyembahan sejati. Allah tidak tinggal diam. Ketika orang Filistin datang menyerang, justru pada saat korban bakaran dipersemba...

Greeter sebagai Ekspresi Keramahtamahan Kristiani

Image
Dalam arus budaya kontemporer yang sering kali dipenuhi oleh sikap individualistik, transaksional, dan tertutup, pelayanan sebagai greeter—penyambut jemaat di gereja—bukanlah sekadar tugas protokoler atau tata tertib liturgis. Ia adalah bentuk nyata dari keramahtamahan ilahi yang dinyatakan dalam perjumpaan manusia. Di balik senyum, jabat tangan, dan sapaan hangat seorang greeter, tersirat sebuah teologi yang mendalam: bahwa gereja adalah tempat di mana setiap orang diterima, bukan karena status atau penampilan, melainkan karena kasih karunia Allah yang telah membuka jalan bagi semua melalui salib Kristus. Yesus sendiri, dalam kematian-Nya, menjadi “pintu” (Yohanes 10:9) yang mengundang semua orang masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa. Dengan demikian, greeter bukan hanya membuka pintu gedung, tetapi mencerminkan pintu itu sendiri—yaitu Kristus. Pelayanan ini menuntut lebih dari keramahan sosial. Ia memerlukan kedewasaan rohani, kerendahan hati, dan kesediaan untuk melihat setiap pen...

Mengapa Natal Masih Relevan?

Image
Tiga Hal yang Bikin Hidup Kita Berubah  Pernah ngerasa Natal itu kayak seasonal content ? Ada di feed Desember, hilang Januari. Lagu, lampu, hadiah—tapi dalamnya kosong. Banyak dari kita merayakan tanpa benar-benar tahu: kenapa Natal itu penting—bukan cuma buat nostalgia, tapi buat hidup kita sekarang? Alkitab bilang, Natal bukan soal tradisi—tapi soal Allah yang masuk ke dunia nyata . Bukan lewat istana, tapi palungan. Bukan lewat influencer, tapi gembala pinggiran. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita”  (Yohanes 1:14). Ini bukan metafora. Ini berita: Tuhan hadir di tengah kekacauan hidup kita. Dan di balik kelahiran itu, ada tiga hal yang mengubah segalanya : Pertama, Natal adalah kabar baik yang membebaskan.    Nama “Yesus” artinya “Tuhan menyelamatkan”  (Matius 1:21). Tapi jangan bayangkan “diselamatkan” cuma soal masuk surga nanti. Ini soal kebebasan hari ini :   - Hati nurani yang ringan —karena semua dosa—yang lalu, yang lag...

Hidup Dalam Kebebasan Yang Diberikan Kristus

Image
Hidup Dalam Kebebasan Yang Diberikan Kristus Ketika Anda menyerahkan hidup Anda kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Anda tidak hanya diselamatkan dari hukuman dosa—Anda dimasukkan ke dalam kehidupan yang benar-benar merdeka . Ini bukan kebebasan sembarangan yang mengarah pada kebejatan, tetapi kebebasan yang membebaskan Anda untuk hidup sesuai rancangan ilahi: suci, penuh damai, dan penuh kuasa. Alkitab menyatakan bahwa dalam Kristus, kita menerima tiga kebebasan besar yang saling terkait dan mentransformasi seluruh keberadaan kita. 1. Hati Nurani yang Bersih: Kebebasan dari Beban Rasa Bersalah Yesus berkata, “ Jika Sang Anak memerdekakan kamu, maka kamu akan benar-benar merdeka. ”  (Yohanes 8:36,  Shellabear 2011 ). Kebebasan yang paling dalam bukanlah kebebasan politik atau ekonomi, melainkan kebebasan rohani—kebebasan dari belenggu dosa, penyesalan, dan rasa bersalah yang menggerogoti jiwa. Banyak orang hidup seolah membawa “kantong sampah” penuh dosa di pun...

YESUS: JURUSELAMAT KITA, IMANUEL BAGI KITA

Image
YESUS: JURUSELAMAT KITA, IMANUEL BAGI KITA Berdasarkan Matius 1:21–24   Selamat Natal, jemaat Tuhan yang terkasih.   Di tengah gemerlap lampu-lampu Natal, alunan lagu “Malam Kudus,” dan hangatnya pertemuan keluarga, mari kita kembali ke inti dari perayaan ini: bukan sekadar kelahiran seorang bayi, tetapi kelahiran Juruselamat dunia. Injil Matius membuka narasinya bukan dengan gembala atau malaikat di langit, melainkan dengan sebuah mimpi di kamar Yusuf—seorang tukang kayu yang dihadapkan pada skandal, kebingungan, dan keputusan yang akan mengubah sejarah. Dan dari mimpi itu, Allah menyampaikan pesan yang mengguncang alam semesta:    “Dan anak ini akan diberi nama Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:21)   Saudara-saudara, ini bukan sekadar pengumuman kelahiran. Ini adalah deklarasi misi ilahi.   I. YESUS DATANG BUKAN UNTUK MEMPERBAIKI SISTEM, TETAPI UNTUK MENYELAMATKAN KITA DARI DOSA. ...

Menjelajahi Tanah Suci di Ruang Diplomatik yang Kosong: Ziarah Sub-Negara Warga Indonesia ke Israel

Image
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,  Salam sejahtera bagi kita semua, shalom. Om swastiastu, Salam Namo Buddaya Hadirin yang saya hormati,   Bayangkan Anda seorang warga negara Indonesia—seorang Kristen dari Jawa atau seorang Yahudi dari Surabaya—yang ingin mengunjungi Yerusalem, tempat Yesus disalibkan atau kota doa leluhur Anda. Namun, negara Anda tidak mengakui Israel secara diplomatik. Tidak ada kedutaan, tidak ada konsulat, dan kebijakan luar negeri secara resmi menyatakan solidaritas dengan Palestina. Secara politik, perjalanan Anda bisa dianggap “kontroversial”. Namun, setiap minggu, puluhan warga Indonesia seperti Anda tetap berangkat—melalui agen perjalanan swasta—menuju “Tanah Suci” untuk ziarah Alkitabiah.   Fenomena inilah yang menjadi pusat penelitian kualitatif mendalam yang baru saya selesaikan. Ini bukan sekadar pariwisata biasa. Ini adalah bentuk diplomasi sub-negara: ketika warga biasa, didukung oleh aktor swasta, menciptakan kor...

KASIH YANG TAK BERSYARAT

Image
KASIH YANG TAK BERSYARAT DI PALUNGAN DAN DI KAYU SALIB Berdasarkan Roma 5:8 Salam kasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus! Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,   Malam ini kita berkumpul di bawah cahaya lilin dan nyanyian malaikat untuk merayakan kelahiran Sang Juru Selamat. Di tengah sukacita Natal ini, kita sering terpesona oleh gambaran bayi Yesus yang lembut di palungan—selimut hangat, wajah malaikat, dan kedamaian kota kecil Betlehem. Namun, malam ini, izinkan saya mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Karena palungan itu bukan sekadar tempat kelahiran. Palungan adalah awal dari sebuah demonstrasi kasih yang paling radikal, paling tak terbayangkan, dan paling tak bersyarat dalam sejarah umat manusia. Rasul Paulus menulis dalam Roma 5:8:   > “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Ayat ini adalah jantung Injil. Dan malam ini, izinkan saya mengatakan: Natal tidak bisa dipisahka...