Haman Punya Dekrit, Ester Punya Waktu
Di istana Persia, dua jenis kekuasaan sedang bertarung. Di satu sisi ada Haman: ia memegang dekrit kerajaan, jabatan, hukum, dan tiang gantungan yang sudah disiapkannya. Kekuasaannya terlihat, terstruktur, dan mengikat seluruh kekaisaran. Di sisi lain ada Ester: gadis yatim piatu, orang asing, perempuan, minoritas — tidak memegang dekrit apa pun. Yang ia miliki hanyalah waktu, dan kecerdikan memakainya. Hal yang paling mencolok dari kisah ini: sepanjang Kitab Ester, nama Tuhan tidak tertulis satu kali pun. Dalam bahasa kajian budaya, keheningan ini bukan kekosongan — ia adalah hidden transcript: ruang di mana mereka yang terpinggirkan menyimpan identitas dan perlawanan, tanpa bisa dikendalikan penguasa. Ketika ancaman pemusnatan datang, Mordekhai mengingatkannya: "Siapa tahu, justru untuk waktu yang seperti inilah engkau diangkat menjadi ratu" (Ester 4:14). Dan Ester menjawab dengan keputusan yang mengguncang kekaisaran: "Lalu aku akan masuk menghadap raja… dan jikalau aku harus binasa, biarlah aku binasa" (Ester 4:16).
Perhatikan apa yang dilakukan Ester selanjutnya. Ia tidak langsung mendatangi raja. Ia berkata: "Kumpulkanlah semua orang Yahudi… berpuasalah untuk aku, tiga hari lamanya" (Ester 4:16). Ia memilih menunggu. Tiga hari. Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia tahu: yang lemah tidak bisa menang dengan kekuatan — ia menang dengan waktu dan kesempatan. Inilah yang oleh Michel de Certeau disebut taktik: langkah-langkah kecil, cerdik, dari posisi yang tidak berkuasa, yang menjebol strategi penguasa dari dalam. Haman bisa mengeluarkan dekrit dalam sehari. Ester memilih menunggu saat yang tepat.
Dan saat itu benar-benar datang, dengan cara yang tidak terduga. Pada malam itu juga, raja tidak bisa tidur (Ester 6:1). Ia meminta catatan sejarah dibacakan, dan teringat akan jasa Mordekhai yang belum pernah diberi balasan. Semuanya berubah dalam semalam. Haman, yang datang dengan rencana menghukum mati Mordekhai, justru diperintahkan menghormatinya. Dekrit yang ia keluarkan sendiri, akhirnya berbalik menghukum dirinya. Inilah pembalikan yang khas dari posisi pinggiran: penguasa terburu-buru memamerkan kekuatannya, yang lemah menunggu waktu, dan waktu membalikkan segalanya.
Dari sudut kajian budaya, ada dua pelajaran besar di sini. Pertama, negosiasi identitas. Ester diganti namanya menjadi nama Persia — bentuk kekuasaan simbolis: penguasa menamai, berarti penguasa menguasai. Ia dididik dengan budaya istana, dipersiapkan menjadi bagian dari sistem. Namun Ester menunjukkan apa yang disebut Homi Bhabha sebagai hibriditas: ia tidak menolak sepenuhnya, tidak juga melebur sepenuhnya. Ia menerima nama dan kedudukan baru, tetapi inti identitasnya tidak pernah ia serahkan. Inilah agensi dari pinggiran: menentukan batas sendiri, hidup di tengah sistem tanpa menjadi korban sistem.
Kedua, keheningan adalah strategi. Nama Tuhan tidak disebut, identitas Ester disembunyikan, rencana keselamatan bekerja dalam diam. Bagi yang terpinggirkan, keheningan bukan kelemahan — ia adalah ruang untuk mengatur waktu, membangun solidaritas (Ester meminta seluruh umat berpuasa bersama), dan menunggu momen yang tepat. Ketika momen itu tiba, suara yang selama ini tersembunyi justru menjadi yang paling menentukan.
Akhirnya, kisah ini mengajarkan pada kita semua yang merasa tidak berkuasa: dekrit penguasa bisa menakutkan, tetapi ia tidak pernah menentukan akhir cerita. Yang menentukan akhir cerita adalah kesetiaan yang menunggu waktu, keberanian yang bergerak dalam diam, dan identitas yang tidak bisa diganti oleh siapa pun. "Jikalau aku harus binasa, biarlah aku binasa" — keberanian seperti ini tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari kesadaran: waktu selalu berpihak pada yang setia menunggunya.
__*__