Menggunakan Teknologi Dan Media Dengan Hikmat: Melawan Arus Algoritma Dan Merawat Kehadiran Yang Sejati
"Segala sesuatu diperbolehkan bagiku, tetapi tidak semuanya bermanfaat... Hati-hatilah, supaya kamu hidup dengan bijaksana... Janganlah kamu menjadi bebal, tetapi mengertilah apa kehendak Tuhan." __ 1 Korintus 6:12; Efesus 5:15-17.
Melalui kacamata studi budaya, teknologi dan media bukanlah sekadar alat netral yang menunggu arahan moral penggunanya; melainkan kekuatan struktural yang memiliki bias, agenda, dan kemampuan untuk membentuk cara berpikir, berhubungan, serta memandang realitas. Pemikir Herbert Marcuse mengingatkan bahwa kemajuan zaman seringkali menyembunyikan pengaruh penyerapan: kenyamanan yang ditawarkan bisa membuat kita perlahan menerima pola hidup yang mereduksi kebebasan batin. Lebih jauh lagi, di tengah ekonomi perhatian (attention economy), perhatian kita bukan hanya diperebutkan sebagai komoditas, tetapi dirampas dari tujuan utamanya. Dalam teologi, perhatian adalah bentuk dasar dari ibadah; ke mana perhatian kita tertuju, ke situlah hati kita menyembah. Algoritma media sosial, pada hakikatnya, berfungsi sebagai "liturgi digital" yang tanpa henti membentuk keinginan (desire) kita, berisiko mengubah kita menjadi penyembah kenyamanan dan validasi semu.
Pemikir Jean Baudrillard memperdalam pandangan ini dengan konsep simulakra: media sering menciptakan dunia tanda dan citra yang kabur batasnya dengan kenyataan. Apa yang kita lihat di layar seringkali bukan gambaran utuh kehidupan, melainkan representasi yang diseleksi dan dibingkai. Bagi orang percaya, hal ini menghadirkan tantangan teologis yang serius. Kekristenan adalah iman yang inkarnasional—di mana Firman menjadi daging dan hadir secara fisik. Ketika kita terbiasa mengonsumsi "representasi" iman, hubungan, bahkan Tuhan hanya melalui layar, kita berisiko kehilangan esensi kehadiran yang sejati. Kita menjadi lebih nyaman berinteraksi dengan citra yang bisa dikendalikan, alih-alih mencintai sesama dan Tuhan yang nyata, dengan segala ketidaksempurnaannya.
Sementara itu, Raymond Williams menekankan pentingnya pilihan sadar dan struktur sosial. Bagi Williams, kemajuan teknologi menjadi berkat jika kita memegang kendali atas strukturnya. Namun, kendali ini tidak bisa dilakukan secara isolatif. Di sinilah peran Gereja sebagai komunitas (eklesiologi) menjadi sangat krusial. Gereja lokal harus hadir sebagai antitesis dari dunia maya—sebuah ruang nyata di mana tubuh fisik hadir, penderitaan ditanggung bersama, dan kasih dipraktikkan tanpa filter. "Menguji segala sesuatu" di era ini bukanlah tugas individu yang terisolasi, melainkan panggilan komunal. Kita membutuhkan komunitas untuk saling mengingatkan, menyaring masukan, dan menjaga agar ritme hidup kita tidak dikendalikan oleh lonceng notifikasi.
Firman Tuhan memberikan prinsip kebebasan yang bertanggung jawab: Tidak semuanya bermanfaat... kendalikanlah dirimu... hidupilah dengan hikmat. Kita harus menyadari bahwa karena teknologi memiliki agenda dan biasnya sendiri (dirancang untuk membuat ketagihan dan memecah konsentrasi), "kebebasan" Kristen bukan sekadar hak untuk memilih konten, melainkan kemerdekaan dari perbudakan baru. Bijaksana dalam zaman ini berarti berani melawan arus desain teknologi yang mengeksploitasi kita. Kita tidak membiarkan layar mengatur ritme batin, melainkan kita yang dengan sadar menentukan batas, demi kemuliaan Tuhan.
Maka, marilah kita menerjemahkan kesadaran
ini ke dalam disiplin rohani yang nyata:
1. Menjadikan Puasa Digital sebagai
Disiplin Rohani: Tetapkanlah "Sabbath digital"—waktu-waktu khusus
untuk mematikan layar dan berpuasa dari hiruk-pikuk informasi. Ini adalah
tindakan profetik untuk mendeklarasikan bahwa Tuhan, bukan algoritma, yang
berdaulat atas waktu dan jiwa kita.
2. Mengembalikan Dimensi Inkarnasional
(Kehadiran Fisik): Lawanlah godaan simulakra dengan mengutamakan kehadiran
fisik. Luangkan waktu untuk tatap muka, pelayanan yang melibatkan keringat dan
air mata, serta persekutuan nyata yang tidak terperantara oleh layar.
3. Membangun Literasi Kritis Berbasis Komunitas: Jangan menyaring informasi sendirian. Bawa pertanyaan, kecemasan, dan temuan Anda ke dalam persekutuan kelompok kecil atau gereja. Biarkan tubuh Kristus saling menajamkan dan menjaga pikiran kita dari kehancuran batin.
Dengan demikian, kita tetap hidup di zaman modern, namun tidak membiarkan jiwa kita dikomodifikasi olehnya. Kita maju dalam memanfaatkan pengetahuan, tanpa meninggalkan kebijaksanaan yang kekal, dan tetap berpijak pada realitas kasih karunia Tuhan yang nyata, bukan sekadar citra di layar kaca.
__***__