Dari Eden ke Yerusalem Baru: Peta Misi Seumur Hidup



Saudara, coba bayangkan: Anda sedang berjalan di tempat asing, buka peta di ponsel, tiba-tiba sinyal hilang. Anda terus melangkah, tapi bingung — sebenarnya mau ke mana, dan sampai nanti harus mengerjakan apa? Banyak orang percaya, hidupnya justru seperti itu. Secara teologis kita tahu diri ini "diutus Tuhan," tapi sering kali tidak jelas: diutus untuk apa, tugasnya apa, tujuannya ke mana. Hari ini mari kita baca peta besar Alkitab, yang membentang dari Eden sampai Yerusalem Baru, dan percayalah, tugas Anda ada tertulis di peta itu.

Inti pesannya sederhana: Allah adalah Allah yang mencari dan mengutus, dan Anda — ya, Anda — diutus untuk memberitakan Injil, menjadikan murid, dan menghadirkan kasih-Nya, supaya semua orang berdamai dengan Allah dan memuliakan nama-Nya (2 Kor. 5:17–20).

17: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." 18: "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami." 19: "Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran-pelanggaran manusia. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami." 20: "Kami adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah."

1. Penciptaan. Kita mulai dari taman Eden. Di situ manusia diciptakan "menurut gambar Allah" dan diberi amanat untuk "memakmurkan dan memelihara" bumi (Kej. 1:26–28). Artinya, misi bukanlah rencana cadangan Allah setelah manusia berbuat dosa. Sejak awal kita memang dirancang menjadi wakil Allah di dunia ini. Jadi panggilan Anda bukan dimulai saat Anda "masuk bagian misi" di gereja — panggilan itu dimulai sejak Anda diciptakan.

26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

2. Kejatuhan. Tapi kemudian dosa masuk. Kejadian pasal 3 menceritakan manusia memakan buah terlarang lalu bersembunyi. Dosa itu merusak segalanya sekaligus: hubungan dengan Allah retak, harga diri rusak, relasi dengan sesama hancur, bahkan alam ikut terkutuk (Kej. 3:17; Rm. 8:20–22). Tapi perhatikan baik-baik: yang datang mencari bukan manusia, melainkan Allah sendiri. Allah bertanya, "Adam, di manakah engkau?" (Kej. 3:9). Di situlah misi Allah dimulai — Allah yang mencari, bukan kita yang menemukan. Lalu Allah berjanji: akan datang Keturunan perempuan yang meremukkan kepala ular (Kej. 3:15).


3. Penebusan. Janji itu digenapi bertahap. Mulai dari Abraham, yang kepadanya Allah bersabda, "Lewat kamu, semua kaum di bumi akan mendapat berkat" (Kej. 12:3). Lalu Israel, dipanggil menjadi "kerajaan imam dan bangsa yang kudus" di tengah bangsa-bangsa (Kel. 19:6). Lalu para nabi, khususnya Yesaya, yang menubuatkan Hamba Tuhan akan menjadi "terang bagi bangsa-bangsa" (Yes. 49:6). Puncaknya: Yesus Kristus, Sang Putra Diutus Bapa (Yoh. 3:16). Dia mati di salib sambil berseru, "Sudah selesai!" (Yoh. 19:30), lalu bangkit mengalahkan maut (1 Kor. 15:55–57). Dan setelah bangkit, Dia berkata kepada kita, "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu" (Yoh. 20:21).


4. Pemulihan. Nah, sekarang pertanyaannya: diutus untuk mengerjakan apa? Ada tiga tugas utama. Pertama, memberitakan Injil — menjadi saksi Kristus dengan kata-kata Anda, mulai dari lingkungan terdekat (Kis. 1:8). Kedua, menjadikan murid — bukan sekadar mengajak orang "percaya" lalu selesai, tetapi membimbing mereka bertumbuh dan taat kepada Yesus (Mat. 28:19–20). Ketiga, menghadirkan kasih dan keadilan dalam perbuatan nyata: menolong yang susah, mengasihi tetangga, menjadi pembawa damai (Mik. 6:8; Mat. 5:13–16). Tujuannya? Supaya orang berdamai dengan Allah, nama-Nya dipermuliakan di antara bangsa-bangsa, dan Kerajaan-Nya semakin nyata — sampai suatu hari nanti, "orang dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa" berkumpul bersama memuji Dia di Yerusalem Baru (Wah. 7:9; 21:24–26).

7:9. Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 21:24 Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; 21:25 dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana; 21:26 dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya. 

Jadi pekan ini, jangan cuma jadi penonton. Pilih satu hal konkret: doakan satu orang yang belum percaya, ceritakan satu kisah kasih Kristus kepadanya, atau lakukan satu perbuatan kasih di lingkungan Anda. Anda bukan penonton — Anda adalah utusan Kristus.

Mari berdoa. Tuhan, kami bersyukur Engkaulah yang mencari kami dan mengutus kami. Jadikan kami utusan-Mu yang setia — memberitakan, menjadikan murid, dan menghadirkan kasih-Mu — sampai Yerusalem Baru tergenapi. Dalam nama Yesus, Amin. 


Popular posts from this blog

Menggunakan Teknologi Dan Media Dengan Hikmat: Melawan Arus Algoritma Dan Merawat Kehadiran Yang Sejati

Penjelasan Teologis, Refleksi Pastoral, dan Penerapan Praktis Matius 1:21-24

Mengkaji Konsep Hibriditas dalam Konteks Globalisasi dan Budaya: Suatu Perspektif Teoretis dan Empiris