Mengenal Yang Asing: Membaca Ulang Kisah Emaus Melalui Lensa Budaya

Injil Lukas 24:13-35 

Pernahkah kita merasa seperti dua murid dalam perjalanan ke Emaus: berjalan dalam kekecewaan, membawa narasi yang "gagal", sambil bertanya-tanya di mana Tuhan berada di tengah reruntuhan harapan kita? Dalam bahasa cultural studies, mereka sedang mengalami crisis of representation—ketika cerita besar yang mereka percayai tentang "Mesias pembebas politik" tidak lagi cocok dengan realitas sejarah yang mereka alami: salib, kematian, dan keheningan kubur.

 

Yesus mendekati mereka sebagai "orang asing". Menariknya, teks mencatat "ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia" (ay. 16). Dalam perspektif kajian budaya, ini bukan sekadar keajaiban supranatural, melainkan metafora tentang epistemic blindness—bagaimana kerangka pikir, ekspektasi kultural, dan trauma kolektif dapat "menghalangi" kita untuk mengenali kehadiran Ilahi yang justru hadir dalam bentuk yang tidak kita harapkan: sebagai sesama pejalan, sebagai pendengar, sebagai orang asing yang bertanya.

 

Yesus tidak langsung menyatakan identitas-Nya. Ia memulai dengan pertanyaan: "Apakah yang kamu percakapkan?" (ay. 17). Ini adalah metode dialogis yang menghargai narasi mereka, sekalipun penuh kekecewaan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ini mengingatkan kita: sebelum kita "mengoreksi" iman orang lain, kita dipanggil untuk mendengar cerita mereka—terutama mereka yang tersisih, yang kecewa, yang merasa ditinggalkan oleh narasi besar agama atau negara.

 

Kemudian Yesus "menerangkan Kitab Suci" (ay. 27). Namun, perhatikan: Ia tidak menafsirkan dari menara gading otoritas, tetapi sambil berjalan bersama. Ini adalah hermeneutika dari bawah: penafsiran yang lahir dari solidaritas, dari pengalaman penderitaan, dari perjalanan bersama yang rentan. Dalam bahasa dekolonial, Yesus membongkar hegemoni penafsiran yang memisahkan teks suci dari realitas rakyat kecil. Ia menghubungkan "penderitaan" dengan "kemuliaan"—bukan sebagai legitimasi ketidakadilan, tetapi sebagai janji bahwa Allah berpihak pada mereka yang dihancurkan oleh struktur kuasa.

 

Puncaknya terjadi bukan saat khotbah, tetapi saat "memecah-mecahkan roti" (ay. 30-31). Di sini, pengetahuan bukan lagi kognitif semata, tetapi embodied knowledge—pengenalan yang melibatkan tubuh, rasa, dan persekutuan. Dalam budaya Nusantara, ini selaras dengan filosofi hamemayu hayuning bawana: menjaga keindahan dunia melalui tindakan nyata yang memulihkan relasi. Roti yang dipecah adalah simbol bahwa pengenalan akan Kristus selalu bersifat komunal, inklusif, dan transformatif.

 

Akhirnya, mata mereka terbuka. Namun, Yesus lenyap. Mengapa? Karena kini mereka tidak lagi membutuhkan "kehadiran fisik" untuk mengenal-Nya. Mereka telah memiliki hermeneutical key: hati yang berkobar-kobar melalui Firman yang dibacakan dalam solidaritas dan tangan yang menerima roti yang dipecah dalam persekutuan. Mereka pun segera kembali ke Yerusalem—bukan untuk menyimpan pengalaman pribadi, tetapi untuk bergabung dalam counter-narrative komunitas: "Tuhan telah bangkit!" (ay. 34).

 

Saudara, dalam dunia yang penuh dengan narasi dominan—politik ketakutan, ekonomi eksploitasi, agama eksklusif—kisah Emaus mengundang kita menjadi cultural interpreters yang kritis dan penuh kasih. Kita dipanggil untuk:

1. Mendengar narasi yang tersisih, sekalipun tidak sesuai dengan ekspektasi teologis kita.

2. Menafsir ulang Kitab Suci dari perspektif mereka yang "dalam perjalanan", bukan dari menara kuasa.

3. Menciptakan ruang "pemecahan roti" di mana pengenalan akan Kristus terjadi melalui keadilan, keramahtamahan, dan solidaritas nyata.

 

Karena sering kali yang kita cari justru berjalan di sisi kita—sebagai orang asing, sebagai sesama pejalan, sebagai roti yang dipecah bagi dunia.

 

Pertanyaan Refleksi: Di mana "Emaus" dalam hidup Anda—ruang kekecewaan di mana Anda justru dapat bertemu Kristus yang hadir sebagai sesama pejalan?

 

Aksi Praktis: Minggu ini, undanglah seseorang yang berbeda latar belakang untuk berbagi cerita sambil makan bersama. Dengarkan tanpa menghakimi. Biarkan "pemecahan roti" menjadi ruang di mana Anda saling mengenal—dan mungkin mengenal Dia.

---***---

Popular posts from this blog

Penjelasan Teologis, Refleksi Pastoral, dan Penerapan Praktis Matius 1:21-24

Mengkaji Konsep Hibriditas dalam Konteks Globalisasi dan Budaya: Suatu Perspektif Teoretis dan Empiris

Menjelajahi Tanah Suci di Ruang Diplomatik yang Kosong: Ziarah Sub-Negara Warga Indonesia ke Israel