Hegemoni yang Retak: Penurunan Assemblies of God dalam Lensa Budaya Kontemporer*
Penurunan denominasi Assemblies of God (AG) bukan sekadar anomali statistik atau kegagalan manajerial; ia merupakan gejala struktural dari transformasi budaya religius Amerika pasca-Kristen. Dalam perspektif Cultural Studies, kejatuhan AG mengungkap bagaimana logika pasar, performativitas spiritual, dan krisis otoritas institusional berinteraksi untuk meruntuhkan hegemoni keagamaan yang pernah dominan. AG tumbuh karena berhasil memaketkan pengalaman religius sebagai modal budaya: ibadah dinamis, klaim penyembuhan, dan penekanan pada baptisan Roh Kudus yang dipasarkan sebagai akses langsung ke yang transenden. Namun, dalam ekonomi agama yang terkomodifikasi, gereja non-denominasional melakukan kanibalisasi internal dengan mengadopsi dan menyempurnakan model AG—mulai dari produksi audiovisual hingga program anak—sambil membuang beban historis denominasional. AG terjebak dalam paradoks budaya: terlalu terlembaga untuk menarik pencari kebebasan spiritual, namun terlalu “khas” untuk bersaing dalam pasar yang menghargai fleksibilitas identitas. Penurunannya berjalan senyap—tanpa perpecahan dramatis—namun justru mengungkap bagaimana pesaing intra-evangelikal menggeser hegemoni AG dari dalam.
Krisis retensi generasi muda mengungkap
pergeseran epistemik yang lebih dalam. Generasi milenial dan Gen-Z hidup dalam
budaya yang secara kritis membedakan antara otentisitas dan pertunjukan.
Doktrin “bahasa roh sebagai bukti awal baptisan Roh Kudus” yang dulu menjadi
daya tarik, kini menciptakan tekanan psikologis dan pengalaman yang dipaksakan
sebagai ukuran hierarki rohani. Ketika spiritualitas dikurasi dan
distandardisasi, ia kehilangan daya transformatifnya dan berubah menjadi ritual
kosong. Di tengah posisi sosial-kultural AG yang kaku, generasi baru yang
menghargai keraguan dan pandangan yang lebih moderat memilih keluar. Mereka
menolak iman yang diinstruksikan; mereka mencari ruang partisipatif yang
memisahkan otentisitas dari pertunjukan dan memungkinkan negosiasi identitas
secara bebas.
Lebih jauh, akumulasi skandal kepemimpinan
dan struktur polity yang terdesentralisasi mencerminkan krisis representasi
dalam budaya karismatik. Otonomi gereja lokal, yang dulu dirayakan sebagai
anti-birokrasi, justru menjadi ruang bagi akumulasi kuasa simbolik yang tidak
terkendali. Narasi “yang diurapi” sering berfungsi sebagai mekanisme hegemonik
yang menutupi kritik, menormalisasi penyalahgunaan wewenang, dan melahirkan scandal
fatigue yang mengusir jemaat secara permanen. Secara paralel, keruntuhan misi
tradisional tidak hanya mencerminkan kesadaran postkolonial, tetapi juga
kolapsnya infrastruktur pendanaan deputasi di tengah penutupan gereja lokal.
Skeptisisme generasi muda terhadap model misi jangka pendek yang transaksional
memperkuat sinyal bahwa era validasi sepihak dari pusat Amerika telah berakhir.
Pada akhirnya, penurunan AG adalah cermin
retaknya otoritas kultural agama di era late modern. Ia membuktikan bahwa
formula pertumbuhan yang dibangun atas komodifikasi pengalaman dan eksploitasi
momentum kultural memiliki tanggal kedaluwarsa. Ketika pasar agama jenuh,
generasi baru menuntut otentisitas, dan struktur kuasa dipertanyakan secara radikal,
denominasi yang tidak mampu merefleksikan dirinya sebagai entitas budaya yang
hidup akan tersingkir. Krisis AG mengajarkan bahwa dalam budaya kontemporer,
keberlanjutan iman tidak dijamin oleh skala atau spektakel, melainkan oleh
kapasitas untuk membangun formasi murid yang otentik, akuntabel, dan berani
melepaskan metrik demi makna yang benar-benar dihidupi.
--
*Komentar terhadap "The Assemblies of God Collapse: America’s Fastest-Shrinking Pentecostal Church" pada Kanal "Christian Faith Archive" 2 Desember 2025
https://www.youtube.com/watch?v=jmNkSwoCGvY
---***---