Lembah Akhor sebagai Metafora Pemulihan: Akuntabilitas Kolektif dan Integritas Kepemimpinan Pastoral dalam Narasi Yosua 7:1-26
Abstrak
Narasi Yosua 7:1–26 menyajikan krisis kepemimpinan pastoral yang diakibatkan oleh dosa kolektif dalam komunitas iman. Studi ini menganalisis teks tersebut melalui pendekatan koding tematik untuk mengungkap dinamika antara integritas individu, tanggung jawab sistemik, dan pemulihan relasional dalam konteks kepemimpinan gerejawi kontemporer. Temuan penelitian mengidentifikasi enam tema sentral: (1) dosa individual sebagai ancaman terhadap keutuhan komunal, di mana pelanggaran Akhan terhadap barang ḥērem tidak hanya merupakan kesalahan pribadi tetapi menginfeksi seluruh identitas Israel sebagai umat perjanjian; (2) respons kepemimpinan pastoral yang autentik, tercermin dalam ekspresi duka transparan Yosua yang menggabungkan kerentanan emosional dengan pertanyaan teodise yang berani; (3) prosedur akuntabilitas sistemik yang bertahap dan transparan, di mana Tuhan memberikan mekanisme investigasi berlapis (suku–kaum–keluarga–individu) untuk menghindari vonis prematur; (4) anatomi dosa personal yang progresif—melihat, mengingini, mengambil, menyembunyikan—sebagai pola universal yang relevan untuk refleksi spiritual; (5) kekudusan komunal sebagai prasyarat kehadiran ilahi, di mana Tuhan menegaskan bahwa penyertaan-Nya bergantung pada pemurnian struktural dari unsur yang mencemari; dan (6) transformasi ruang dosa menjadi monumen peringatan melalui pendirian tugu di Lembah Akhor, yang mengubah kegagalan menjadi pembelajaran generasional. Implikasi pastoral dari analisis ini menegaskan bahwa pemimpin komunitas iman harus menolak budaya penutupan institusional demi "nama baik", sebagaimana prosedur transparan dalam Yosua 7 menolak kompromi terhadap integritas. Dalam konteks Indonesia, temuan ini relevan untuk menangani krisis etis dalam gereja—baik korupsi struktural maupun penyalahgunaan kuasa pastoral—dengan menekankan bahwa pemulihan komunitas dimulai bukan dari penyangkalan dosa kolektif, melainkan dari pengakuan radikal dan pemisahan dari unsur yang merusak kekudusan. Studi ini berkontribusi pada pengembangan kerangka kepemimpinan pastoral yang mengintegrasikan akuntabilitas moral, kepekaan sistemik, dan harapan pemulihan, sejalan dengan visi kepemimpinan yang penuh kasih dan bertanggung jawab dalam komunitas iman masa kini.
Kata Kunci:
Akuntabilitas kolektif; kepemimpinan pastoral; dosa struktural; kekudusan komunal; integritas etis; Yosua 7.
--*--