Keputusan Etis dalam Bayang-Bayang Ketidakpastian: Belajar dari Abraham di Moria



Kepemimpinan iman sering menghadapkan kita pada dilema yang tak nyaman: memilih antara jalan yang aman secara sosial atau setia pada panggilan ilahi yang menantang logika. Narasi Kejadian 22 tentang Abraham di Gunung Moria bukan sekadar kisah ketaatan buta, melainkan laboratorium pengambilan keputusan etis yang relevan bagi pemimpin gereja masa kini—khususnya di tengah tekanan untuk mengorbankan integritas demi pertumbuhan institusi atau popularitas.


Abraham menghadapi ujian ekstrem: perintah mengorbankan Ishak, anak tunggal yang menjadi jaminan janji Allah sendiri. Dalam ketegangan ini, ia menunjukkan tiga prinsip keputusan etis yang transformatif.

Pertama, ketaatan dalam ketidakpahaman. Abraham tidak menuntut penjelasan teologis sebelum bertindak; ia bangun pagi-pagi, mempersiapkan segala sesuatu dengan detail, dan berjalan tiga hari dalam diam—sebuah metafora bagi proses refleksi yang diperlukan sebelum keputusan sulit. Keputusan etis sering lahir bukan dari kepastian penuh, tetapi dari kepercayaan bahwa Allah tetap setia meski jalan-Nya tak terbaca.


Kedua, keberanian melepaskan "Ishak" kita. Bagi pemimpin gereja, "Ishak" bisa berupa program yang populer, reputasi pribadi, atau bahkan warisan pelayanan yang telah dibangun puluhan tahun. Allah meminta Abraham melepaskan hal paling berharga bukan untuk menghukum, tetapi untuk memurnikan prioritas: apakah kita menyembah Allah atau menyembah berkat-Nya? Keputusan etis yang autentik lahir ketika kita rela kehilangan "Ishak" demi mempertahankan kesetiaan pada kebenaran.


Ketiga, iman dalam penyertaan ilahi. Dialog Abraham dengan Ishak—"Allah yang akan menyediakan"—menjadi jembatan antara ketidakpastian dan harapan. Ia tidak berbohong, tetapi juga tidak putus asa. Bagi pemimpin komunitas iman di Indonesia, prinsip ini mengajak kita memimpin dengan transparansi terbatas namun keyakinan penuh: kita tidak perlu memiliki semua jawaban, tetapi harus jujur bahwa sumber kekuatan kita adalah Allah yang setia.


Yang menarik, intervensi ilahi datang tepat ketika pisau diangkat—bukan sebelumnya. Ini mengingatkan kita bahwa keputusan etis seringkali harus diambil dalam "titik kritis", tanpa jaminan hasil yang nyaman. Namun justru di sanalah karakter kepemimpinan dibentuk. Setelah ujian, Abraham kembali ke Bersyeba: ia tidak tinggal dalam pengalaman mistis pribadi, tetapi kembali ke komunitas dengan identitas yang diperbarui. Keputusan etis sejati selalu mengarah pada restorasi relasional, bukan isolasi spiritual.


Bagi pemimpin gereja di tengah godaan pragmatisme, kisah Moria mengajak kita bertanya: Apa "Ishak" yang perlu kita lepaskan agar integritas kita tidak dikorbankan demi kepentingan sesaat? Keputusan etis bukanlah formula matematis, melainkan perjalanan iman yang menuntut keberanian melepaskan, ketekunan menantikan, dan kepercayaan bahwa di puncak gunung keputusan sulit, TUHAN menyediakan—bukan hanya solusi, tetapi karakter yang semakin serupa dengan Kristus yang rela menjadi korban demi kasih.

--*--

Popular posts from this blog

Penjelasan Teologis, Refleksi Pastoral, dan Penerapan Praktis Matius 1:21-24

Mengkaji Konsep Hibriditas dalam Konteks Globalisasi dan Budaya: Suatu Perspektif Teoretis dan Empiris

Menjelajahi Tanah Suci di Ruang Diplomatik yang Kosong: Ziarah Sub-Negara Warga Indonesia ke Israel