Kepemimpinan yang Rela Melepaskan: Model Abraham di Gunung Moria



Kepemimpinan sering dikaitkan dengan akumulasi—pengikut, pengaruh, jabatan, sumber daya. Namun narasi Kejadian 22 membalik logika ini: kepemimpinan sejati justru diukur melalui kemampuan melepaskan apa yang paling berharga. Abraham di Gunung Moria menjadi ikon sacrificial leadership—bukan karena ia hampir mengorbankan anaknya, tetapi karena ia rela melepaskan "masa depan" yang telah dijanjikan Allah sendiri demi kesetiaan pada suara ilahi yang tak terduga.


Inti kepemimpinan yang berkorban terletak pada tiga gerakan transformatif. 

Pertama, pelepasan yang disengaja. Abraham tidak ragu-ragu: pagi-pagi ia memasang pelana, membelah kayu, dan berangkat—tindakan yang menunjukkan keputusan etis bukanlah respons emosional, melainkan komitmen yang dipersiapkan dengan sengaja. Bagi pemimpin gereja masa kini, "Ishak" bisa berupa program yang populer, reputasi pribadi, jabatan atau bahkan warisan pelayanan turun-temurun. Kepemimpinan yang berkorban menuntut keberanian melepaskan hal-hal ini ketika Allah memanggil kita keluar dari zona nyaman demi integritas yang lebih besar.


Kedua, solidaritas dalam beban. Abraham tidak mengirim Ishak sendirian ke puncak gunung; ia memikul kayu bersama anaknya, berjalan seirama dalam ketegangan yang sama (ay. 6, 8). Ini adalah kritik halus terhadap kepemimpinan yang menjauh dari penderitaan jemaat—pemimpin yang hanya memberi arahan dari menara gading. Seperti Kristus yang memikul salib-Nya sendiri, pemimpin yang berkorban berjalan bersama komunitasnya dalam pergumulan, mendengar pertanyaan sulit ("Di manakah anak domba?"), dan tetap memberi jawaban yang penuh harap meski belum melihat solusinya.


Ketiga, kepercayaan pada penyediaan yang tepat waktu. Abraham berkata, "Allah yang akan menyediakan," meski belum melihat domba itu. Ia mengangkat pisau dalam iman, bukan dalam keputusasaan. Bagi pemimpin di Indonesia yang sering menghadapi tekanan untuk mengorbankan nilai demi hasil instan—misalnya menutupi kesalahan struktural demi menjaga nama baik gereja—kisah ini mengingatkan: Allah sering menyediakan jalan keluar yang tepat ketika kita berdiri di ambang ketaatan penuh. Waktu ilahi bukanlah keterlambatan, melainkan ruang pembentukan karakter.


Yang menentukan bukanlah pengorbanan itu sendiri, melainkan substitusi yang Allah sediakan: domba jantan menggantikan Ishak. Ini menjadi fondasi teologis kepemimpinan Kristen—kita tidak dipanggil untuk menjadi martir demi martir, tetapi untuk meneladani Kristus yang menjadi korban pengganti bagi banyak orang (Markus 10:45). Kepemimpinan yang berkorban bukanlah eksploitasi diri yang heroik, melainkan pelayanan yang mengarah pada pembebasan komunitas.


Akhir narasi ini penting: Abraham kembali ke Bersyeba (ay. 19). Ia tidak tinggal dalam pengalaman mistis di puncak gunung, tetapi kembali ke kehidupan komunitas dengan identitas yang diperbarui. Kepemimpinan yang berkorban dengan pengorbanan sejati selalu berujung pada restorasi—bukan pencarian pengakuan pribadi. Di tengah budaya kepemimpinan yang sering mengagungkan karisma dan kekuasaan, Gunung Moria mengajak kita merenung: kepemimpinan yang berkenan kepada Allah adalah yang rela melepaskan "Ishak"-nya, berjalan bersama yang lemah, dan percaya bahwa di balik setiap pengorbanan yang setia, TUHAN menyediakan—bukan hanya untuk kita, tetapi berkat bagi semua bangsa.

--*--

Popular posts from this blog

Penjelasan Teologis, Refleksi Pastoral, dan Penerapan Praktis Matius 1:21-24

Mengkaji Konsep Hibriditas dalam Konteks Globalisasi dan Budaya: Suatu Perspektif Teoretis dan Empiris

Menjelajahi Tanah Suci di Ruang Diplomatik yang Kosong: Ziarah Sub-Negara Warga Indonesia ke Israel